Tampilkan postingan dengan label pesbuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesbuk. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2016

Curcol Seorang Follower (3)

Kemaren nahan nyetatus untuk sebuah gosip poliklitik yang anget cenderung panas. Well, saya lihat dan baca timeline pesbuk saya juga belum nganu..maksudnya I know lah sesiapa saja yang akan mengeluarkan statement-statement politiknya. Masih adem adem.
Daaaan di hari ini taraaa saya menjumpai banyak sekali status yang halus, tapi kuat berhembus.
Kawan, saya cuman mau bilang...ternyata pesbuk saya msh berimbang. Ketika banyak frenlist saya penggembira dari side A, maka jebulnya saya follower setia akun-akun penggembira side B.
Dan pesbuk terasa lebih menyenangkan. Gayeng. Seret seret kemriuk.
Dunia berasa lebih luas.
Pikiran berasa lebih liberal...eh bebas. Hihihi..
Informasi lebih banyak dan berimbang. Meski too much information will kill you, but pinter-pinternya kita dong buat milah dan milihnya. Jadi gak kebanyakan dan gak terlalu sedikit. Iya kan iya doong?

Curcol Seorang Follower (2)

Ini salah satu alasan saya mem-follow akun-akun yang mungkin sebagian orang menilainya sbg akun-akun pengusung liberal, kekiri-kirian, dan sejenisnya. Itu pendapat dan judgement dari mereka, padahal yo biasa wae. Ambil yang baik buang yang buruk toh? Kebenaran bukan monopoli sekelompok orang saja. Dengan keberagaman, justru saya banyak mendapatkan pencerahan dan pandangan suatu hal dari berbagai sudut pandang. Ini lebih fair dan baik buat kesehatan jiwa kayaknya. Di tengah gempuran status plus komentar di pesbuk saya, saya perlu menjaga otak tetap waras. Pesbukan tetap nyaman.

Jaman pilpres kemaren tuh, rasanya jengah banget ya...setiap buka pesbuk kok isinya ....hampir semua menyebalkan. Dan tau nggak yang paling menyebalkan adalah isu agama digoreng sedemikian rupa hanya demi politik dan sebangsanya.
Sorry to say, unfollow masih jadi pilihan saya. Situ mau cenderung ke kelompok mana, partai mana nggak masalah buat saya. Kita boleh berbeda sikap dan pandangan, tapi plis deh rada pinteran dikit. Rada melek dikit, karena kebanyakan merem nggak ada bedanya sama tidur.
Jadi maap ya, kalau ada yang share berita plus bumbu rada nganu, saya akan mengeluarkan jurus tendangan tanpa bayangan...yaitu njempoli atau share status tandingannya. Itung-itung pencerahan buat kita. Biar kinclong gitu.

Nah sebaliknya, barangsiapa yang terganggu dengan segala postingan saya sebaiknya unfollow saja..daripada nganu. Soalnya saya kalo lagi nganu, nganu banget. Nggak bisa dianu, apalagi kalo situ pada nganu.
Nganu!!

Curcol Seorang Follower (1)

Kita ini nggak perlu lah berbangga hati bisa berteman atau follow atau bahkan ngefans sesuakun/seseorang/sekelompok orang. Juga sebaliknya nggak perlu juga kaleeuss pengumuman nggak berteman/follow/ngefans orang-orang tsb, lalu nyinyirin ke orang-orang yang bersikap sebaliknya.
Biasa aja.
Belum tentu yang kita follow itu mengandung kebaikan dan kebenaran 100 persen. Ambil yang baik, buang yang buruk. Eh, ini bukan teori nyolong sandal jepit ya? Hahaha.

Seringkali kita ngefans seseorang atau follow sesuakun itu hanya karena cenderung pada beberapa pendapatnya saja, tidak semuanya. Bahkan ada yang sengaja follow hanya untuk mencari celahnya saja*tipe hater ini mah.

Kalau mau disurvey, berapa persen seh akun-akun pertemanan di pesbuk yang bener-bener teman kita? Yang bener-bener memfollow setiap postingan kita? Apakah semuanya ngefans atau menjempoli kita?

Ah, belum tentu juga yang ngefans sama kita, seratus persen suka dan bangga sama kita.

Eh, kita? Elu kali...

Selasa, 20 Oktober 2015

Merasa Luar Biasa


Sore-sore yang masih terasa terik, kami bermain depan rumah. Saya dan anak-anak. Saya momong, refreshing, sambil pesbukan. Multitasking yang rasanya embuh. Sesekali sambil merenung, menerawang jauh..mikirin masa depan bangsa dan negara ini. #halaah, lambemu Mak.

Main outdoor begini mungkin terasa sedikit mewah bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan, hunian sempit dan minus lahan hijau. Bagi kami, yg tinggal di kampung..dan terpencil ya dah biyasah. Bukan hal yang warbyasah lagi. Main dedaunan, berlari di rerumputan, berburu belalang, nonton manuver burung elang...

Yaaa memang terkadang saya menemukan hal- hal baru, yang luar biasa seperti ini. Kulit belalang atau selongsongnya. Anak- anak sih udah nggak heran dengan yang beginian. Mereka udah sering nemu. Tapi bagi saya? Yang begituan itu saya amat-amati lalu saya photo. Untung nggak pake adegan ndlongop. Rasanya pengen bengok-bengok, "Iki lhooo!! Aku nemu apik. Apiiikkk banget. Pasti kamu belum pernah nemu. Pasti kamu ndak tau. Ya kan?"

Selongsong kulit belalang ini memang menakjubkan.
Namun saya merasa hebat pada saat ini, melebihi kehebatan spiderman dan baalveer. Hahaha. *sokbangetdahgua
Padahal kalo disurvey, bisa jadi sebelas dari sepuluh orang sudah pernah melihat selongsong kulit belalang seperti ini. Dan saya adalah orang ke-11 itu. Buktinya mak jleb di depan mata. Saya diketawain anak saya. Katanya, kok baru tahu? Hihihi memang sih kurang nya wawasan bisa berbuah kekonyolan.

Begitulah, kadang bagi kita saat menemukan hal-hal yang baru itu rasanya luar biasa, warbyasaah pokoke. Sampai-sampai kita pengen memberitahu semua orang tentang keluarbiasaan ini. Padahal bagi yang lain itu hal yang biasa. Sekali lagi, biasa.

Senin, 19 Oktober 2015

Ancen Ngene


Ngene iki lho penake urip ning kampung jenenge Sorowako. Akeh banyu, akeh wit-witan, akeh mobil tapi ra macet, tur mugo-mugo akeh rejeki. Nek isuk suara manuk saut-sautan, mbuh manuk opo wae. Elang mabur nduwur wit-witan ketok gedi banget. Sakpitik jago kae. Munyuk ireng kadang dolanan sekitar omah. Iki lagi usum alpokat. Dilut maneh usum nongko, njuk kui pelem, njuk rambutan.

Ning kene akeh warga pendatang soko luar Sorowako. Ketoke luwih akeh pendatang timbangane penduduk asli.

Aku ra mudeng boso Sorowako, tapi untunge ning kene wong-wong podo nganggo boso Indonesia. Lha iyo to, iki iseh Indonesia. Sisih timur. Sulawesi Selatan sing mepet Sulawesi Tengah. Nek ning pasar aku sering malah nganggo boso Jowo, soale akeh sing dodolan kui wong Jowo. Bakul tomat lombok, bakul tempe tahu, bakul perabotan barang pecah belah, bakul semongko, bakul gado-gado, bakul bakso, bakul es dawet, pokoke akeh lah. Aku nganti bingung, iki Sorowako opo ngendi? Yo wis lah, nek sing ngerti sejarah transmigrasi yo mestine paham.

Iki Setu Minggu prei kerjo, prei sekolah. Iki mesti gym lan jogging track rame. Hawane adem tur silir. Njuk aku ki posting tulisan ngene karepku piye? Iyooo...ra piye-piye. Mbangane ra nulis.

*mohon maap buat yang merasa roaming.

Jumat, 09 Oktober 2015

Ngomongin Monyet [lagi]


Melihat kalian bergerombol seperti itu, jadi muncul syak wasangka bahwa kalian sedang membicarakan sesuatu yang serius. Iya, serius. Jangan-jangan kalian merencanakan strategi pemanenan buah mangga dua bulan ke depan. Jangan-jangan kalian membahas teknik pembagian buah nangka yang bentar lagi masak.

Atau bisa jadi kalian sebenarnya membicarakan saya..hahaha. Sebagai salah satu pesaing dalam mencari buah-buahan kehadiran saya tidak bisa diremehkan begitu saja. Karena saya tidak sendiri. Saya muncul berjamaah dengan tetangga-tetangga saya. Hahaha.. meskipun saya nggak bisa manjat, tapi saya bawa galah! Dan meskipun sebenarnya saya takut, tapi saya bisa berpura-pura berani.
Diteriakin "monyet!" aja kalian dah lari, apalagi kalau saya suruh berjoget. #eh

Jadi, sebenernya saya masih penasaran...sedang membicarakan apa kalian ini? Mbahas update status? Ngomongin negara? Ah, saya ndak percaya! Apalagi ngomongin dollar vs rupiah. Blass saya ndak percaya. Lha wong buah-buahan aja kalian gretongan ndak pake mbayar kok.

*tangi, Mak..!

Sempet ada dugaan bahwa mereka merencanakan makar. Tapi...makar itu makanan apaan sih? Wahahaha. Masa gara-gara liat beginian saya harus ngontak BIN segera. Ya, silahkan saja...saya takleyeh-leyeh sambil mengamati situasi terkini. Hihihi..

Ndak lama kemudian, ada yang mbisikin saya, eh Mak..kayaknya mereka lagi mbahas acara sunatan massal kawanan monyet deh. Jadi mereka itu lagi ngobrolin mau ngamplopin berapa. Mau hiburan jogetan model gimana. Yang masak siapa, atau ambil katering di mana. Tapi kok, ada anak monyet di situ. Nggak mungkin, ah!

Jadi begini, itu anak monyet lagi ngadu, habis diledekin temannya, "Lo belon sunat, ye!" Tapi pas mau ikutan sunat, die takut. Takut macam digigit harimau! Trus emak bapaknye bujuk-bujuk tuh, ..sekalian ndaptar gitu.

Wahahaha... Maaak..maak! Ngene ae dibahas. Dadi melu ra genah kabeh.

Kamis, 08 Oktober 2015

Terbang By Twin Otter


Dulu, kami pernah merasakan naik pesawat jenis twin otter, dengan maskapai  SMAC (Sabang Merauke Air Charter). Cmiiw untuk kepanjangan singkatan maskapai. Pesawatnya kecil, mungkin kapasitas penumpangnya hanya 20-an. Saat itu demi menghemat tenaga dan waktu perjalanan, juga memanfaatkan promo, kami berangkat ke Makassar dari Bandara Lagaligo Bua-Palopo, sekitar 2 km dari rumah. Pesawat yang kami tunggu datang dari Bandara Andi Djemma Masamba, Luwu Utara. Nah kabarnya rute ini juga melayani tujuan Rampi, Sekko. Itu lho daerah yang terkenal dengan ojeknya yang gigih, menempuh jalur berbatu dan berlumpur di tebing-tebing pegunungan. Sekko-Masamba-Bua-Makassar.

Waktu itu kami membawa seorang anak lelaki kami usia 3,5 tahun dan bayi perempuan usia 5,5 bulan.  Kapasitas pesawat kurang lebih 20 an orang. Tanpa layanan garpu-sendok. Air kemasan gelas plastik pun nihil. Sepanjang perjalanan, selain safety belt, kami diharuskan memakai head set besar untuk meredam suara bising. Udara terasa sedikit panas, mungkin penyejuk udara yang kurang dingin atau entah. Terselip juga rasa was-was..dan aaah siapa sih yang nggak merasa was was naik pesawat udara? Berdoa..berdoa..dan berdoa. Selebihnya penerbangan terasa menyenangkan. Melihat perbukitan, awan-awan putih, pesisir pantai, belantara... Hingga sekitar 40 menit sampailah di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros. Jika menempuh jalur darat biasanya 8 jam. Hemat waktu, hemat tenaga, meski merogoh kocek lebih dalam. Tahu kan maksudnya? Iyalah, tiket penerbangan itu memang lebih mahal daripada tiket bis atau pete-pete. Apalagi penerbangan perintis, yang pakai pesawat-pesawat kecil itu, Twin otter, ATR, Fokker..


Minggu ini ramai pemberitaan pesawat Aviastar jenis twin otter yang hilang. Mencari dompet ilang memang bisa saya ceritakan dengan berhaha hihi. Tapi mengikuti berita pencarian pesawat Aviastar rute Masamba-Makassar yang hilang kontak, ah..sedihnya.

Hati saya ikut berdebar mengikuti berita ini. Mendengarkan dan membaca nama-nama lokasi yang tak asing lagi, sebagai dugaan lokasi jatuhnya pesawat. *kami bertahun-tahun pernah menetap di Bua, Palopo, eh Luwu.


Selalu ada hikmah di setiap kejadian.
Seperti kita tahu pesawat Aviastar yang hilang, akhirnya ditemukan jatuh di pegunungan Latimojong, Kabupaten Luwu. Semua kru dan penumpangnya dinyatakan meninggal dunia.

Semoga yang berduka diberi kesabaran dan ketabahan. Dan semoga ke depannya, menjadi perhatian serius maskapai dan pemerintah dalam perbaikan infrastruktur, kualitas, layanan dan safety dalam penerbangan perintis di daerah-daerah.  Serta penerbangan dan transportasi pada umumnya.


Senin, 05 Oktober 2015

Mencari Kaca Mata



Pagi ini, setelah sholat subuh, saya mengawali hari dengan mumet. Pusing pala bebeb. Bukan karena mikir negara, atau nilai tukar rupiah terhadap dollar. Bukan juga karena mikirin situasi perpolitikan menjelang pilkada. Bukan pula mikirin dunia maya yang semakin berisik dari hari ke hari. Ah, bukan juga mikirin status kamuh yang gitu-gitu deh...

Penyebab sebenarnya adalah, saya kehilangan kaca mata. Bagaimana mungkin saya bisa melihat dengan baik dan jelas, meskipun belum tentu benar, tanpa kaca mata itu. Apalah saya tanpa kaca mata..
Bingung. Seingat saya, sebelum tidur saya serah terimakan itu kaca mata ke suami saya. Biasanya dia akan menaruhnya di atas laci sebelah tempat tidur.

Walhasil, kami berdua pun segera menyisir meja laci, sprei, kasur, bed cover, selimut, dan..hati. Hahaha barang kali ada yang mengira bahwasanya kaca mata saya tersimpan di hati, eaaa. Garing banget.
Mencari sampai ketemu, hingga kami terpaksa menggeser laci dan tempat tidur. Lha kok ndilalah malah nemu barang-barang yang nyempil-nyempil. Yang beberapa hari nggak ketahuan rimbanya. Boro-boro nyari, diduga hilang pun enggak. Walhasil, saya nemu kerudung, kuncir, kaos kaki bayi, kaos dalam, pulpen, dan tumpukan dollar. Hahaha yang terakhir jelas HOAX.

Tapi kaca mata belum ketemu juga. Sampai mumet saya. Bahkan sempat mak sliwer pikiran akan dugaan konspirasi jahat untuk menghilangkan benda berharga milik saya itu. Tapi..konspirasi siapa? Lha kok sempet-sempetnya. Kepikiran juga menduga sesuatu yang halus memindahkan kaca mata saya ke tempat yang masih misterius. Tapi...tepung terigu dan tepung beras di dapur kayaknya baik-baik saja tuh. Ah, mumet..mumet...pokoknya. Mau nyalahin pemerintahan Pak Jokowi lha kok kebangeten temen saya jadi rakyat..hihihi.

Ya sudahlah. Iseng-iseng suami buka laci satu per satu..akhirnya nemu kaca mata itu dalam laci kedua. Leganyaaaa...
Pertanyaannya, kok bisa?

Hihihi ternyata kondisi mengantuk tidak saja diwaspadai saat menjalankan kendaraan, tapi juga di saat menyimpan kaca mata.

Minggu, 13 September 2015

Menerima Permak Kathok


Pagi ini buka pesbuk, dapat dua tautan status yang intinya sama, yaitu tentang menulis. Saya jadi iseng buka-buka blog dan membaca salah satu postingannya yang berjudul Kenapa Menulis. http://ketepelkukuk.blogspot.co.id/2012/03/kenapa-menulis.html?m=1
Nggak terlalu penting lah mbahas si empunya blog, karena ah...siapa lah dia.

Ada bagian yang menarik untuk digarisbawahi, kalau perlu sekalian ditebelin dan cetak miring.
"Segaring apa pun tulisan saya, menulis tidak pernah membuat saya sakit hati. Menulis selalu menyenangkan, always will be..."

Apakah..yang demikian itu..adalah salah satu definisi dari sebuah istilah 'passion'? Entahlah...

Yang saya tau, kita menemukan passion nggak seketika pas lahir cenger oek oek. Ada memang yang nemu dari masa kecil, lalu terpelihara sampe dewasa. Ada yang nemu setelah nyoba sekian jenis hobi, baru nemu passionnya. Ada yang karena terpaksa.

Ada yang nemu dari dulu, lalu hilang entah kemana, eh pas nyoba lagi baru ngeh kalau itu passionnya. Serasa nemu mutiara eh..passion yang hilang, yang lama dicari sekarang berjumpaaa.
Itu. Itu yang saya rasakan saat saya kembali menjahit setelah sekian lama. Debar debar gemes, seneng, puas..
Kalau menilik tampang saya, mungkin orang kurang yakin kalau saya bisa njahit. Lha saya sendiri juga nggak yakin kok. Ngahahaha.. Palingan kelasnya masih level ndondomi. Butuh usaha khusus untuk segera naik level menjadi penjahit beneran, minimal penjahit amatiran dulu.

 Sejak SMP saya sudah berkenalan dengan mesin jahit dan belajar menjahit ala kadarnya. Mesin jahit itu adalah hadiah pemberian dari bapak saya untuk prestasi saya yang tidak seberapa waktu kelas tiga. Tjap-nya kupu-kupu. Dikayuh pakai kaki. Bertahun-tahun dipakai, masih oke. Cuman meja dan dudukannya yang dedel duel. Tapi baru-baru ini sama bapak saya, dibelikan meja dan dudukan baru yang lebih keren. Jadi terlihat antik.

Nah pas kemaren itu rasanya pengeeen banget punya sendiri. Apalagi ngelihat di rumah mertua ada, di rumah Lasem juga ada. Pengen takboyong ke sini, rasanya kebangetan, hahaha. Yo wis, akhirnya beli sendiri, model kekinian yang portable itu. *maap, status ini mengandung pamer.

Sudah beberapa hari ini kegiatan menjahit masuk dalam kegiatan resmi keseharian saya. *gayamu, Maakk. Bikin kuncir dari kain, memperbaiki baju sobek, dan mengecilkan celana kerja suami. Point terakhir ini butuh usaha rada besar, konsul dulu ke simbok saya. Piye carane? Nggak butuh waktu lama bagi saya untuk mengukur, mendedel, menjahit, memotong, dan menjahit lagi. Selesai. Hasilnya lumayan, setidaknya menurut testimoni empunya celana.

Saya puas dan senang. Saking senangnya saya langsung kirim sebaris pesan terselubung untuk keluarga besar saya:  "MENERIMA PERMAK KATHOK". Diketik dengan rasa bangga dan penuh passion-able.

Selasa, 08 September 2015

Dunia Perpesbukan


Dunia perpesbukan itu menjadi kesenangan tersendiri bagi saya. Membaca status-status yang menginspirasi, menghibur, memberi informasi, pencerahan, dan ilmu. Nah, demi mendukung kesenangan ini sejak lama saya memberlakukan konsep filtering ala saya. Unfriend, unfollow, hide postingan, remove tag dll. Ah, jangan kaget gitu dong mbak..mas... Terkadang sikap 'tegas' diperlukan untuk menunjang kenyamanan. Dari pada menyulut emosi, menurunkan mood, dan nyinyir sana sini.  Situasi politik hingar bingar begini, tanpa filtering maka pesbuk saya akan penuh dengan postingan yang gitu gitu deeehh. Tau kan kamsud saya? Yaaa gitu gitu deehh pokoknya.

Beranda lini masa akan terasa panas, gerah, dan sumpek. Boro-boro mau nyetatus yang asik-asik. Keburu emosi dan males. Iya nggak sih? Iya iyaaa...emang saya orangnya lemah, nggak tahan dengan "teriakan" di pesbuk ini.

Barusan saya buka pesbuk suami saya, yang nampaknya jarang dapat sentuhan pribadi. Hahaha kebanyakan juga tautan dari saya. Buka lini masa halaman pertama sudah ada share berita dari blablablabla..dotkom. Provokatif, bombastis..dan jelas bermuatan politik garis keras. Keras tapi ngawur sih untuk jelasnya. Pun berseliweran status-status serupa. Begitu pula untuk halaman kedua, ketiga dan seterusnya. Nggak butuh waktu lama untuk menikmati sebuah rasa yang bernama MALES BANGET. Tuh kan, saya emang lemah :p

 Syukurlah doi jarang buka pesbuknya. Atau jangan-jangan pesbuknya memang sudah jamuran #eh..emang oncom. Nggak difilter sih broo.. Ngahahaha.

Tapi, nggak apa-apa. Pesbuk ini adalah sarana mengekspresikan diri. Kita boleh berteriak apa saja.
Tapi kita juga harus paham bahwasanya "everybody can talk but not everybody can speak".

Mudeng kan? Yo ra mudeng rapopo...wong aku ki nyetatus yo rodo ngasal ra jelas sambungane. Eh mbangane ra nyetatus.

Nyetatus Perekonomian Versi Emak-emak


Ada sedikit cerita tentang kerasnya kehidupan emak-emak, yang mencintai diskon dan harga murah. Saat kurs rupiah yang dikabarkan anjlok, ditimpali hingar bingar media sosial yang membahas beginian, inilah saat untuk menguji.

Sabtu kemaren saya menyempatkan ke pasar yang agak jauh dari rumah. Sekitar 30 km mungkin. Duh, demi harga sedikit lebih murah dan kepentingan cuci mata sesaat. Pasar ini hanya ada di hari Sabtu. Ramai betul. Berpuluh-puluh mobil memenuhi parkiran, motor juga ngabalatak. Para pedagang masih lihai memanfaatkan peluang. Para pembeli masih antusias. Berbagai macam barang dagangan digelar.

Akhirnya saya mendapatkan barang belanjaan saya.
Bawang merah 18 rb per kg.(jarang sekali harga bawang merah di bawah 20 rb)
Telur 37 rb per rak ( satu rak isi 30 butir)
Pisang raja satu sisir 5 ribu
Sayur-sayuran seikat 2 ribu
Ikan gabus hidup 25 ribu/kg
Udang galah sedang 50 rb/ kg (lebih murah 10 rb dibandingkan di pasar yang dekat)

Saya bingung, tapi juga bersyukur. Harga-harga masih seperti "biasa". Kalau pun terlihat "mahal''  ya memang begitulah tren harga di sini. Bawang merah malah turun harga. Kalau lagi mahal bisa 40 ribu.
Jadi bingungnya di mana?
Begini,  sebenarnya saya sih mau bilang...eh nanya ding. Itu pada ribut-ribut tentang perekonomian hancur, harga melambung, pemerintah kagak becus kerjanya, itu di negara mana ya? Atau di daerah mana gitu? Beneran saya nanya lho, eh tapi nggak jadi ding.
Jangan ada bully di antara kita.

Duh, inilah kerasnya kehidupan..Antara dunia nyata dan maya. Nyetatus beginian aja, ada perasaan takut dibully...ngahahahaha.