Tampilkan postingan dengan label Sorowako. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sorowako. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2016

Krusekan yang Berbeda

Di belakang rumah ada sepetak 'hutan'. Sebenarnya bukan hutan sih, tapi rerimbunan pohon dan semak belukar. Bagian ini memisahkan rumah kami dengan rumah-rumah di belakang. Jadi ya, mungkin dulu pernah hanya serupa kebun. Berhubung dibiarkan lama kelamaan ya jadi hutan. Balik lagi ke awalnya, ya memang dulunya di sini adalah area hutan sekitaran Danau.
Pohon yang saya tahu di antaranya nangka, petai mlanding, dengen (Dillenia serrata), dan pohon-pohon khas hutan lainnya.
Di pagi hari, suara aneka macam burung riuh dari pepohonan situ. Di siang hari ditambah suara burung elang yang terbang di atasnya. Suara krusek-krusek  juga sering terdengar. Semakin lama tinggal di sini, suara krusek krusek pun bisa saya bedakan dengan mengandalkan insting dan tebakan. Babi hutan jelas menimbulkan suara krusek krusek yang berbeda dengan sapi. Biawak juga beda. Nah, beda juga dengan kawanan monyet hitam.
Pernah di siang hari pas saya lagi di halaman tiba-tiba muncul suara krusek krusek yang tidak biasa. Bukan babi hutan. Bukan sapi. Bukan biawak. Bukan pula monyet. Saya langsung waspada. Naluri pertahanan saya langsung siaga saat saya menduga itu adalah suara jejak kaki orang yang setengah berlari. Menunggu sekian detik, ternyata benar. Ada orang keluar dari 'hutan' itu dengan lagak yang mencurigakan. Saya langsung masuk rumah, mengamati dari teras. Dan, akhirnya saya terpaksa menelepon sekuriti karena kecurigaan yang bertambah. Lagian ngapain sih orang tiba-tiba muncul dari hutan, padahal ada banyak jalanan. Sembunyi? Merencanakan sesuatu? Doing something against the law? *halaahh"* Nah, krusekan jenis manusia ini yang justru lebih harus diwaspadai daripada krusekan jenis lain,  monyet misalnya.

Monyet. Sejak musim nangka dan menjelang musim mangga, saya harus mewaspadai krusekan jenis ini. Tidak lain dan tidak bukan karena ..yaahh tahu sendiri lah. Krusekan tanpa suara pun nyaris saya hafal. Jejak langkah yang ringan. Lalu bertambah jejaknya karena mereka kawanan. Suara daun yang gemerisik karena pohon yang dipanjat. Ah sudahlah nyet, kau mengendap-ngendap pun aku tahu. Silakan saja kau ambil buah sesukamu, tapi ingat..jangan kau kasih habis. Kasiang kodong, kita orang mau makan juga.

Berani Karena Kepepet

Sebagian orang bertindak berani karena (merasa) benar, tapi saya biasanya tidak demikian. Saya berani karena kepepet.

Ada ular hijau melingkar-lingkar di dahan pohon kersen. Anak saya berteriak ketakutan. Lalu saya sok-sokan ambil galah dan parang. Maju mundur antara takut dan ngeri. Bah, itu ular pohon biasa. Besarnya masih lebih kecil dari setang sepeda. Nunggu suami masih sejam lagi, keburu ularnya kabur entah kemana.

Meski akhirnya minta tolong ke tetangga, eh lebih tepatnya memaksa anak-anak saya untuk mengetuk pintu tetangga dan minta tolong. Lumayan lah ada yang bantu  menurunkan ular ke tanah. Dan di penghujung ajalnya, saya gebugin kepalanya sambil berkata, "Maap, yaaa..."
Tak lama ular tergeletak meregang nyawa di bawah pohon kersen.

Rasa takut dan ngeri bisa berubah menjadi keberanian (yang dipaksakan) saat kita kepepet. Itu saja. Seketika saya merasa heroik. Meski bukan pahlawan pembela kebenaran maupun kebetulan, saya sudah membela ketakutan anak-anak saya. Hihihi..lebaayy.

No pic is hoax? Duh, saya nggak tega ngesyer kekejian yang saya lakukan demi elektabilitas semata.

Pas suami pulang, dia cuman bilang, "Kok nggak nelpon Rentokil aja tadi?"
*nepokjidat
*sokheroik

Monyet yang Menggema..ah Sudahlah

Pagi-pagi kayak kurang kerjaan aja, ngusirin monyet di sekitar rumah. Bukan apa-apa seh, kalau mereka berkeliaran di dekat jalan kan takutnya ditabrak kendaraan. Belum lagi resiko diburu orang.

Tapi gini, saya bingung cara ngusirnya. Diteriakin malah mringis. Dilemparin malah nengok doang. Dikejar pake kayu, malah menatap dengan pandangan yang very embuh.
Berkeliaran dari belakang, ke depan, ke samping, trus ke belakang.
Duh nyet..nyet...

Itu kersen tetangga diambilin pulak. Pohon-pohon digelantungin serasa playground mereka.

Walhasil, jadilah saya sama si kecil nonton monyet yang asyik kongkow di belakang rumah. Lumayan lah daripada lumanyun. Sekalian jagain pohon kersen, kali aja mau dirambahnya pulak.

Duh nyet, kalian ini sebenarnya lapar atau emang menggemaskan seh?

Selasa, 24 November 2015

Festival Danau Matano, Mari Mengenal Sorowako

Tak kenal maka tak sayang. Pepatah yang lazim dikoar-koarkan supaya kita lebih saling mengenal serta membangun imej positif tentunya. Coba kalau kita punya kenalan atau tetangga baru. Okelah, hal pertama kita tahu namanya. Lalu rumahnya. Apakah hanya dengan tahu saja kita akan mengenalnya? Hanya dengan melewati rumahnya kita bisa menilai orangnya? Jelas tidak. Tapi untuk main ke rumahnya, kudu ada alasan dong. Biar nggak kentara basa basinya. Hihihi...

Minta garam kek, atau minta belimbing wuluh depan rumah. Asal jangan minta saham aja. Nah..tentu kita akan bersemangat datang ke rumahnya sekedar berkenalan jika ada acara. Misalnya onde-onde rumah baru, hajatan, makan-makan dan lain-lain. Kita bisa ngobrol, makan, dan saling mengenal. 

Here we go. Beberapa daerah yang dulunya kurang terkenal sekarang mulai bergaung namanya dan semakin dikenal. Banyuwangi dengan Festival fashionnya. Tomohon dengan Festival bunganya. Toraja dengan event Lovely Desembernya. Maka...tahun ini Sorowako akan dimeriahkan dengan event skala besar dengan judul Festival Danau Matano. 

Acara yang kabarnya menelan biaya milayaran ini diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Luwu Timur, dan dianggarkan dalam APBD. Konon kabarnya disponsori juga oleh PT Vale Indonesia, sebagai perusahaan tambang di sini. 
Acara akan digelar tanggal 27-29 Nopember 2015. Sejumlah kegiatan akan meramaikan seperti aneka water sport and recreation, wisata tambang di area pertambangan nikel PT Vale, music performance dan lain-lain.

Mungkin akan ada pula gelaran lapak-lapak kuliner. Jangan lupa kalau makan di warung, bayar ya.. Hihihi.. ini bukan macam konggres-konggresan, dek. 

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke sini, jangan khawatir. Meskipun ini kota atau kampung kecil, tapi hotel dan penginapan bejibun. Gratis? Ya mbayar dong, dek. Plis deh, ini festival untuk menggenjot pariwisata. Bukan konggres-konggresan.

Oke, sekian pengumuman dari saya. Semoga menambah wawasan dan pilihan Anda yang akan berlibur akhir minggu ini.
Come and join!


*foto yang saya sertakan adalah area wisata Pantai Ide Danau Matano yang ada di kompleks perumahan Pontada, Sorowako. 
Apik, kan? Cucok laah buat syuting drama atau pilem. Hihihihii 

Selasa, 20 Oktober 2015

Merasa Luar Biasa


Sore-sore yang masih terasa terik, kami bermain depan rumah. Saya dan anak-anak. Saya momong, refreshing, sambil pesbukan. Multitasking yang rasanya embuh. Sesekali sambil merenung, menerawang jauh..mikirin masa depan bangsa dan negara ini. #halaah, lambemu Mak.

Main outdoor begini mungkin terasa sedikit mewah bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan, hunian sempit dan minus lahan hijau. Bagi kami, yg tinggal di kampung..dan terpencil ya dah biyasah. Bukan hal yang warbyasah lagi. Main dedaunan, berlari di rerumputan, berburu belalang, nonton manuver burung elang...

Yaaa memang terkadang saya menemukan hal- hal baru, yang luar biasa seperti ini. Kulit belalang atau selongsongnya. Anak- anak sih udah nggak heran dengan yang beginian. Mereka udah sering nemu. Tapi bagi saya? Yang begituan itu saya amat-amati lalu saya photo. Untung nggak pake adegan ndlongop. Rasanya pengen bengok-bengok, "Iki lhooo!! Aku nemu apik. Apiiikkk banget. Pasti kamu belum pernah nemu. Pasti kamu ndak tau. Ya kan?"

Selongsong kulit belalang ini memang menakjubkan.
Namun saya merasa hebat pada saat ini, melebihi kehebatan spiderman dan baalveer. Hahaha. *sokbangetdahgua
Padahal kalo disurvey, bisa jadi sebelas dari sepuluh orang sudah pernah melihat selongsong kulit belalang seperti ini. Dan saya adalah orang ke-11 itu. Buktinya mak jleb di depan mata. Saya diketawain anak saya. Katanya, kok baru tahu? Hihihi memang sih kurang nya wawasan bisa berbuah kekonyolan.

Begitulah, kadang bagi kita saat menemukan hal-hal yang baru itu rasanya luar biasa, warbyasaah pokoke. Sampai-sampai kita pengen memberitahu semua orang tentang keluarbiasaan ini. Padahal bagi yang lain itu hal yang biasa. Sekali lagi, biasa.

Senin, 19 Oktober 2015

Ancen Ngene


Ngene iki lho penake urip ning kampung jenenge Sorowako. Akeh banyu, akeh wit-witan, akeh mobil tapi ra macet, tur mugo-mugo akeh rejeki. Nek isuk suara manuk saut-sautan, mbuh manuk opo wae. Elang mabur nduwur wit-witan ketok gedi banget. Sakpitik jago kae. Munyuk ireng kadang dolanan sekitar omah. Iki lagi usum alpokat. Dilut maneh usum nongko, njuk kui pelem, njuk rambutan.

Ning kene akeh warga pendatang soko luar Sorowako. Ketoke luwih akeh pendatang timbangane penduduk asli.

Aku ra mudeng boso Sorowako, tapi untunge ning kene wong-wong podo nganggo boso Indonesia. Lha iyo to, iki iseh Indonesia. Sisih timur. Sulawesi Selatan sing mepet Sulawesi Tengah. Nek ning pasar aku sering malah nganggo boso Jowo, soale akeh sing dodolan kui wong Jowo. Bakul tomat lombok, bakul tempe tahu, bakul perabotan barang pecah belah, bakul semongko, bakul gado-gado, bakul bakso, bakul es dawet, pokoke akeh lah. Aku nganti bingung, iki Sorowako opo ngendi? Yo wis lah, nek sing ngerti sejarah transmigrasi yo mestine paham.

Iki Setu Minggu prei kerjo, prei sekolah. Iki mesti gym lan jogging track rame. Hawane adem tur silir. Njuk aku ki posting tulisan ngene karepku piye? Iyooo...ra piye-piye. Mbangane ra nulis.

*mohon maap buat yang merasa roaming.

Jumat, 09 Oktober 2015

Ngomongin Monyet [lagi]


Melihat kalian bergerombol seperti itu, jadi muncul syak wasangka bahwa kalian sedang membicarakan sesuatu yang serius. Iya, serius. Jangan-jangan kalian merencanakan strategi pemanenan buah mangga dua bulan ke depan. Jangan-jangan kalian membahas teknik pembagian buah nangka yang bentar lagi masak.

Atau bisa jadi kalian sebenarnya membicarakan saya..hahaha. Sebagai salah satu pesaing dalam mencari buah-buahan kehadiran saya tidak bisa diremehkan begitu saja. Karena saya tidak sendiri. Saya muncul berjamaah dengan tetangga-tetangga saya. Hahaha.. meskipun saya nggak bisa manjat, tapi saya bawa galah! Dan meskipun sebenarnya saya takut, tapi saya bisa berpura-pura berani.
Diteriakin "monyet!" aja kalian dah lari, apalagi kalau saya suruh berjoget. #eh

Jadi, sebenernya saya masih penasaran...sedang membicarakan apa kalian ini? Mbahas update status? Ngomongin negara? Ah, saya ndak percaya! Apalagi ngomongin dollar vs rupiah. Blass saya ndak percaya. Lha wong buah-buahan aja kalian gretongan ndak pake mbayar kok.

*tangi, Mak..!

Sempet ada dugaan bahwa mereka merencanakan makar. Tapi...makar itu makanan apaan sih? Wahahaha. Masa gara-gara liat beginian saya harus ngontak BIN segera. Ya, silahkan saja...saya takleyeh-leyeh sambil mengamati situasi terkini. Hihihi..

Ndak lama kemudian, ada yang mbisikin saya, eh Mak..kayaknya mereka lagi mbahas acara sunatan massal kawanan monyet deh. Jadi mereka itu lagi ngobrolin mau ngamplopin berapa. Mau hiburan jogetan model gimana. Yang masak siapa, atau ambil katering di mana. Tapi kok, ada anak monyet di situ. Nggak mungkin, ah!

Jadi begini, itu anak monyet lagi ngadu, habis diledekin temannya, "Lo belon sunat, ye!" Tapi pas mau ikutan sunat, die takut. Takut macam digigit harimau! Trus emak bapaknye bujuk-bujuk tuh, ..sekalian ndaptar gitu.

Wahahaha... Maaak..maak! Ngene ae dibahas. Dadi melu ra genah kabeh.

Selasa, 06 Oktober 2015

Ketika Invasi Semut Tiba


Tinggal di kawasan yang dulunya hutan, dan sekarang pun masih mepet-mepet hutan, serbuan semut menjadi masalah tersendiri. Segala jenis semut, dari yang halus ampe kasar. Hihihi maksudnya dari semut pudak, semut api, semut hitam kecil dan besar, semut rangrang. Sumbernya dari pepohonan atau tanah. Nah, rumah model panggung bukan halangan bagi semut untuk menginvasi. Apalagi rumah kami berdinding kayu. Tambah mak sliyeng aja itu semut-semut menerobos.

Dua hari ini invasi semut api sudah berlangsung di rumah kami. Awalnya saya menemukannya di kamar mandi. Tanpa belas kasihan saya menyemprotnya. Saya lakukan dengan gaya yang diusahakan persis emak-emak nyemprot nyamuk di iklan-iklan obat nyamuk. Matilah mereka. Semut-semut mati menggelepar di lantai kamar mandi. Ini adalah barang bukti kemanjuran obat nyamuk. Bisa digunakan membasmi semut.

Lalu esoknya, saya sapu. Mungkin tersisa sedikit saja semut-semut yang sudah tak bernyawa. Malam berikutnya, invasi semut berpindah ke kamar belakang. Menerobos sudut finding lalu berbaris lalu berpencaran entah hendak kemana. Mungkin mereka sedang piknik. Hihihi.. Hal yang sama saya lakukan. Saya semprot sampai terkapar. Lalu saya bersihkan. Mumet pala bebeb jika invasi ini berlanjut. Saya tak sanggup meneruskan perjuangan melawan semut. Bukan karena belas kasihan saya, duh.. Sampai kapan sih saya maksain bergaya kaya emak-emak iklan pembasmi nyamuk?! Hahaha.. Maapin eike ya, mut semut.

Akhirnya, jurus berikutnya adalah menelepon. Ya, untuk urusan begitu kami dimudahkan dengan melapor. Dan pagi ini pasukan om-om dari Rentokil datang lengkap dengan kendaraan dan peralatan tempurnya. Hihihi..emak lebay.
Kami mengobrol dikit, tanya jawab seperlunya. Saya tunjukkan lokasi invasi semut dua hari kemaren. Untung masih ada sisa-sisa pertempuran [tidak berimbang] yang bisa difoto sebagai barang bukti pelapor. Kami juga berdiskusi sebentar untuk membahas dugaan konspirasi..eh lokasi semut bersarang.

Walhasil, disemprotlah seluruh tiang penyangga rumah dan..entahlah di mana lagi. Hahaha saya tinggal tanda tangan dan tidak mengikuti prosedur..eh om-om bermasker lengkap yang nyemprotin racun semut.
Bukan karena nggak tega meliat adegan kekerasan itu, tapi nganu...nganuuuuu...ambune kui lhooo, lebih parah dari obat semprot nyamuk.


Selasa, 08 September 2015

Jangan Ambil Bajuku, Nyet!


Mau cerita tentang monyet lagi. Cerita tentang bagaimana kami berkawan dengan monyet. Sekawanan monyet macaca yang liar dan sering muncul berkeliaran di sekitar rumah kami.

Duh, maafkan kami nyet. Tadi kami mengusirnya dengan penuh kasih sayang *hueeekk. Ya gimana, pilihan sulit yang saya harus ambil karena salah satu monyet menurunkan beberapa pakaian yang saya jemur di belakang rumah. Walhasil, semua monyet mlipir beranjak. Gara-gara ulah seekor, sekawanan terpaksa menanggung akibatnya.

Mereka tidak pergi, hanya mengambil jarak.  Yang asyik cari kutu berpasangan begeser sedikit untuk meneruskan di dekat semak. Yang duduk-duduk pun masih prengas prenges. Beberapa berpindah tempat dan berpencar. Dan ada seekor induk yang lagi memberikan asinya pada seekor anaknya yang unyu banget, terpaksa bergeser. Awalnya dia hanya berjarak kira-kira dua meter depan pintu, lalu pindah ke bawah pohon nangka. Duh maapin eike ya nyet...Bayi monyet menggelantung di dada induknya yang berjalan pergi. Lalu induk itu menengok ke arah saya. Duh, tatapannya itu...bikin nggak enak.

Tak ingin meneruskan dramatisasi scene ini, saya masuk rumah. Lalu keluar dari pintu depan. Di halaman, saya melihat pergerakan mereka yang terorganisir. Berpencar kemana-mana tuk mencari...entah. Seekor monyet duduk di atas batu, memakan sesuatu. Saya memanggil anak-anak yang tidak menyadari kehadiran si hitam. Empat anak kecil serentak menghentikan permainannya, lalu melakukan seremoni euforia, berteriak-teriak memanggil monyet. Anak-anak mendekat.

 Saya pun ikut berteriak, "Heiii...monyeettt..monyeetttt..MONYETTTT!"

Lho, dia malah terbirit lari dan kembali ke kawanan.
Mungkin dia malu karena nggak pake baju. Disorakin, betapa malunya..

 Kami mengikuti dalam jarak beberapa meter.
Eh..eh..terlihat seekor monyet menurunkan beberapa pakaian dari jemuran tetangga saya. Lha kok sepotong baju anak-anak dibawa lari. Kami berteriak sambil melemparinya dengan batu-batu kecil. Maap yaaa...

Untunglah, sepotong baju itu langsung diletakkan tepat di depan semak belukar pepohonan.

Alamaak, jangan mencuri gitu dong nyet. Coba bilang kalau lagi butuh celana atau baju. Saya ada sih beberapa yang bekas  kalau mau. Tapi kalau maunya yang baru ya mohon maap, saya cuma bisa kasih rekomendasi beli di blabla dot kom.

Dia Monyet


Di suatu sore yang syahdu ehem ehem..tiba-tiba mak krusseeekkk. Sesosok mungil berbaju hitam muncul dari semak-semak. Duduk di pinggir jalan di seberang jalan. Mulutnya menyeringai. Eh, dia bukan berbaju tapi berbulu hitam. Iya, monyet macaca.

Sejurus kemudian, dia menyeberang jalan menuju pepohonan di belakang rumah kami. Saya dan anak-anak yang berada hanya tiga atau empat meter dari jalur pelariannya *halah* langsung meneriakinya. Bukan yel yel, tapi sebuah teriakan panggilan. Sebagai sesama makhluk hidup dalam satu habitat maka itulah keramahan kami.

"Woi..woiiii..monyet..monyetttt...MONYEEETTT!!"

Lha kok monyetnya malah terbirit-birit lari. Lalu menghilang di antara pepohonan. Tak menengok atau pun membalas keramahan kami.

Ah, jangan-jangan dia tidak tahu kalau namanya monyet.
Trus apa dong? Atau dia marah dikatai monyet? Ah, sudahlah.

Kamis, 06 Maret 2014

Antara Makassar dan Sorowako


Antara Makassar dan Sorowako, menyimpan banyak cerita. Untuk yang baru pertama kali ke Sorowako –kayak saya dulu, mungkin masih menyimpan banyak tanya *halaaah,  tentang ada nggak sih penerbangan ke Sorowako. Kan jauh tuh, lumayan naik bis bisa 12 jam dari Makassar.

Hahaha gayana ji...
Ngomongin Makassar, saya itu terkesan banget sama bandaranya. Yang baru lho ya, bukan yang lama. Dibandingkan dengan bandara yang lama, Bandara Hasanuddin Makassar ini jauuuuuhh berbeda. Lebih megah dengan desain eksterior dan interior yang lumayan top banget deh.

Jangan lupa setelah check in, sebelum menuju ruang tunggu, foto-foto dulu di depan miniatur kapal pinisi –khas Sulawesi Selatan.  Seringkali saya foto di depan situ, tapi kok belum dapat hasil yang sip markusip hahaha. 



ini boarding pass Sorowako-Makassar :D
Oya, untuk penerbangan menuju Sorowako, tempat check in sekaligus bayar boarding pass terpisah dengan maskapai-maskapai sekelas Garuda, Lion Air, Sriwijaya, dll yang berada persis depan pintu masuk. Agak masuk dulu, lalu belok kiri dikit *tsaaah bingung jelasinnya. Saya agak lupa konter nomer berapa, sebelahan sama penerbangan-penerbangan ke daerah Timur yang menggunakan pesawat emprit eh..pesawat kecil.

Kalau barang-barang bawaan ditimbang itu biasa, tapi jangan heran jika badan kita ikut ditimbang, plus bawaan dalam kabin. Bukan untuk menentukan langsing tidaknya Anda, tapii…ya memang prosedurnya begitu. Pasti ada kaitannya dengan faktor keselamatan. Jika Anda membawa barang bawaan pribadi yang cukup banyak, sementara kapasitas sudah di ambang batas, kadang-kadang barang Anda akan dibawa pada penerbangan keesokan harinya.

Uniknya, di ruang tunggu itu kan bercampur tuh dengan penumpang-penumpang jurusan lain. Ke Surabaya, Jakarta, Manado, Balikpapan dll dari berbagai maskapai. Agak beda ya dengan bandara di Jakarta.Dengarkan baik-baik t uh pengumuman, karena penumpang sekali penerbangan ke Sorowako itu nggak banyak, paling 40-an. Kadangkala nggak diumumin pake ‘halo-halo’ *hahahaha ketauan ya ndeso, bahasane*. Nah, ada tuh bapak-bapak atau om-om (hehe tabe’ di’, Pak) yang memang bertugas khusus mengurus penumpang pesawat ke Sorowako. Biasanya Bapak itu yang mengatur dan mengarahkan calon penumpang. Mengingatkan waktu boarding, lewat gate mana, dll.

Tinggal ikutin aja, kalau ada yang teriak-teriak, “Sorowako….Sorowako..!!”
Bergegaslah ke arah yang ditunjukkan untuk mengantri. Saatnya boarding.

Jangan heran ketika sebagian penumpang saling kenal. Kadang mereka tetangga, teman pengajian, teman kerja, hehe ya iyalah…namanya juga pesawat carteran perusahaan. Dan Sorowako itu kota kecil.  Oya nama pesawatnya Indonesian Air Transport (IATA). Jenis pesawatnya dulu Fokker, tapi tahun kemaren dah ganti pesawat jenis ATR-  Kok tau mak? Hihihi iyalah, kan eike baca di majalah yang disediakan di kantong kursi pesawat.

yang di belakang itu pesawat jenis Fokker, @Bandara Sorowako
Naik bis sebentar untuk menuju tempat parkir pesawat. Widiwww..pesawatnya imut nan menggemaskan *halaaah. Di dalamnya sudah ada pramugari yang siap menyambut Anda dengan sapaan dan senyum ramah. Anda dipersilakan mengambil beberapa koran terbaru.

Untuk waktu penerbangan satu jam, disediakan sekotak snack dan minuman. Dulu saya mengira, berdasarkan pengalaman sebelumnya naik pesawat kecil, naik pesawat ini akan terasa goncangan, getaran
, dan bising suara. Hihihi dulu saya pernah naik pesawat yang di tiap tempat duduknya disediakan headphone untuk meredam suara. Terbang di antara awan-awan kecil..dan sinar matahari terasa sedikit menyengat. Kalo nggak salah ingat, pesawat yang isinya 20an gitu lah. Kayak bis kota :D

Tapi ternyata booo, yang ini nyaman. Hampir nggak ada bedanya dengan naik pesawat komersiil biasa. Yah, kalo cuaca lagi mendung atau hujan deras ya memang agak terasa  goncangan.
Landasan pacu dengan latar belakang Pegunungan Verbeek dan tambang nikelnya


Menjelang waktu landing, sempatkan melihat ke luar jendela. Sorowako yang tampak dari atas. Deretan pegunungan Verbeek, hamparan danau yang luas, pemandangan wilayah tambang nikel, hutan, lalu pemandangan atap-atap rumah yang tersusun rapi lengkap dengan jalan-jalan beraspal.
Asri banget kan?

Waktu pertama kali lihat, amazing banget. Bersyukur bisa dapat kesempatan menikmati pemandangan indah itu.

Nah, teman-teman..ada yang tertarik berkunjung ke Sorowako?
Terminal Kedatangan Bandara Sorowako

Kalau naik bis, gampang, banyak bis yang melayani rute Makassar-Sorowako. Biasanya berangkat petang, sampainya pagi. Mungkin ada sih yang berangkat pagi, sampainya malam. Harga tiketnya sekitar 200 ribuan. Udah dapat bis bagus, nyaman..hehe asal Anda nggak mabok perjalanan. *hiks

Mejeng dulu..
Kalau ingin naik pesawat, ya tinggal ngurus di line khusus urusan tiket penerbangan. Untuk warga umum ya mungkin harus nyari kenalan untuk mencarikan tiketnya. Atau menghubungi agen Antatour. (maap ya, nyebut merk :D) Atau Anda bikin proyek di sini hahaha dijamin lebih gampang nyari tiketnya. Atau Anda adalah artis yang mau manggung hehehe . kemaren baru-baru ini ada penyanyi The Virgin manggung di daerah sekitar sini lho, dan numpang pesawat. Dulu suami saya juga pernah satu pesawat sama mbak Depe.  *hahaha dibahas.


Harganya kayaknya sih lebih mahal untuk umum, kemungkinan lebih dari satu juta rupiah. Karena ini adalah penerbangan terbatas, bukan komersiil. Ada prioritas-prioritas tertentu yang sudah jadi standar prosedural.
Udahan ah, nulisnya..kebanyakan bisi lieur nu macana.

Jangan lupa kalo ke Sorowako, mampir ke Danau Matano.

Area parkir bandara

Rabu, 05 Februari 2014

Nama-nama Danau



Danau Matano ada di sini.

Danau Towuti juga.
Danau Mahalona juga ada (aiiihhh cantik benerrr namanya)
Danau Tempe juga ada di sini.
Danau Toba, ada dekat sini juga.
Danau Batur.
Danau Singkarak.
Danau Bratan.
Danau Sidenreng.
Danau Maninjau.
Danau Ranau.
Danau Tondano.
Danau Limboto.
Danau Poso.
Semuaaaaaa ada!

*Lhooo kok bisa? Itu kan danau-danau dari penjuru Indonesia tercinta?

Iya dooong, itu semua dipakai jadi nama-nama jalan di camp/perumahan sini. Hehehehe..
Kalo danau yang aslinya, hanya Danau Matano yang paling dekat. Lalu Danau Mahalona dan Danau Towuti.

Rabu, 15 Januari 2014

Small Town in the Middle of Jungle


Sebenernya sih small village. Tapi bener kok, kota atau desa kecil ini –Sorowako atau Soroako- dikelilingi hutan, dan danau tentunya. Kami tinggal di perumahan Old Camp, yang mana sebagian rumah kosong tidak terawat. Tapi sebagian besar sisanya terisi dan terawat baik.

Perumahan ini tidak seperti perumahan di kota-kota pada umumnya.

Halamannya luas, jarak ke rumah sekitar juga lumayan. Jadi mau bengok-bengok mungkin tidak terlalu mengganggu tetangga. Di sekeliling rumah, entah di depan, samping atau belakang tumbuh pohon buah yang sudah besar-besar. Kebanyakan mangga, sisanya rambutan, kersen, nangka, kelengkeng, belimbing, alpukat, sukun.  Biasanya kita bebas mau ngambil buahnya terutama yang berada di pinggir-pinggir “hutan”, di sekitar rumah kosong, atau di area umum.
Saya juga pernah kok, hehehe ngambil belimbing wuluh yang lebat buahnya di pinggir jalan. Juga buah rambutan. Mangga apalagi. Di depan rumah kami hampir setiap hari ada aja orang mungut buah yang terjatuh atau bahkan ngambil dari pohonnya.

Kemaren pernah dengar kalau ada monyet di area “hutan”, area pepohonan yang lebat dan rimbun. Saya terkesiap (halaaahh), secara di belakang rumah ada sepetak “hutan”. Tadi waktu mau nunggu anak pulang sekolah di halte bus dekat rumah, dari kejauhan saya lihat hewan merangkak. :p Kirain kucing,..eh anjing. Ehh..lho kok jalannya kadang sambil berdiri. Laaahh monyet ternyata. Nggak cuma satu, tapi serombongan  dari kecil sampe besar. Saya perhatikan sekeliling ternyata sepi, hanya ada pekerja yang memperbaiki atap halte, itu pun lagi istirahat (tidur maksudnya)

Sebagai narsis wannabe dan fotografer amatiran, saya buru-buru pulang ngambil kamera. Pas mau motret looohhh kok monyetnya kabur. Etapi, ada tuh di dahan nangka di belakang rumah orang. Sebagian bergerombol di bawah.

Nggak berapa lama, pindah juga mereka ke halaman rumah. Haddeehh, ternyata saingan handal dalam nyari buah-buahan kita yak? Perasaan kemaren kami udah mengakui
bahwa mencari kersen itu harus bersaing dengan burung kecil nan mini.

Kok malah ngomongin monyet sih, ntar jadi ghibah lho… Padahal ada teman monyet juga sekitar sini. Saya? Bukaaaaaannnn!! Itu lhoo, burung maleo,burung elang, ayam hutan, burung ekor merah yang mirip cendrawasih dll. Pernah ngeliat burung maleo di pinggir jalan, bengong bengong gimanaaaaa gitu. Hehehehe. Tiap pagi dan sore rame suara burung bercericit.

Naaahh, kami juga jadi ngerti kenapa rumah-rumah dibikin model panggung. Semua jendela dan teras rumah ditutup dengan kawat kasa rangkap dua, bolak balik..(eh kayak potokopian dunk). Ya gitu deeehh..bentuknya. Kami tinggal di rumah kayu, kira-kira semester tingginya dari permukaan tanah. Rumah tradisional dengan interior yang menurut saya lumayan modern. Seumur-umur saya baru pakai kompor listrik plus microwave di sini. Mesin cuci gede, plus dryer. AC empat biji. Air panas tinggal ngucurin. Padahal mah, biasanya saya nggodok banyu dulu kalo mau air anget buat mandi. Nggak kebayang kalo di sini nggak pake heater. Airnya dingiiiiiiinn, apalagi di waktu malam dan pagi hari. Alhamdulillah, nggak beli sih…semua fasilitas dapat minjem.

Jalanan di sini…agak sepi memang tapi banyak rambu-rambu. Belum pernah nemu lampu merah, cuma ada plang STOP di persimpangan jalan. Tanda belok, dilarang belok, batas kecepatan maksimal dll. Jalanan muter-muter berblok-blok yang awalnya cukup membuat lieur, lama-lama jadi track jalan-jalan yang asik.

Halte ada di mana-mana, dan jangan harap bisa nyegat bis sekolah atau bis karyawan di sembarang tempat. Anak-anak sekolah terbiasa teratur di jam-jam tertentu menunggu di halte-halte bus. Pun turunnya di halte juga. 

Khusus untuk bus sekolah anak TK, ada guru yang berada di dalam bis untuk mengawasi dan mengatur anak-anak. Tau kan kalo anak kecil seringnya bingung harus turun di halte mana. Hehe

Untuk anak SD bus menurunkan mereka di “terminal” depan area sekolah. Yang nggak naik bus, juga berhenti di situ. Jangan harap bisa antar anak sekolah sampe masuk ke halaman sekolah tanpa dicegat satapam hehe. Kemudian mereka akan berjalan melewati jalan setapak, mengantri untuk masuk gerbang sekolah melalui pintu kecil. Di situ udah ada beberapa guru piket untuk menyambut kedatangan mereka. Satu persatu bersalaman dan mencium tangan guru lalu mereka menuju kelas masing-masing.

Pulangnya, guru kelas akan membariskan mereka menuju tempat naik bis yang ada di dalam area sekolah. Mereka tidak dibiarkan berlarian berdesak-desakan naik bis. Bahaya tau. Nanti guru yang akan mengarahkan mereka harus naik bus yang mana. Kan ada beberapa jurusan ke beberapa perumahan yang berbeda. Di dalam bus juga nggak boleh berdiri, harus berbagi tempat duduk pada temannya, begitu kata anak saya.

Yup, bener kan suasana kota dan desa menjadi satu di sini, di Sorowako. Meskipun kami berteman dengan alam “liar” dan suasana hutan, kami juga berteman dengan modernitas dan keteraturan.




Rabu, 09 Januari 2013

SRQ-UPG-SUB



SOROAKO-UJUNGPANDANG-SURABAYA
Tiga minggu di Soroako rasa-rasanya masih kurang. Tapi apa daya, memang sudah jadwalnya saya kembali ke habitat. Hehe. Alhamdulillah kebagian juga tiket pesawat ke Makassar  tanggal 4 Januari kemaren. Jadi gak perlu bersusah payah menempuh perjalanan darat yg memakan waktu 12 jam.
Di pesawat jenis Fokker 50 itu (saya baca dari petunjuk keselamatan penumpang), kami dapat sekotak snack plus minuman ringan dan satu kantong air sickness bag. Nih gambarnya buat pemirsah

Wkwkwk niat banget kotak snack dan kantong mabok saya bawa pulang buat dipoto-potoin. Malu? Yaa nggak lah. Malu itu kalo nggak pake baju. Lagian membawa pulang kantong mabok dan kotak snack bukan termasuk pelanggaran hukum. Nah yang melanggar hukum dan undang-undang itu udah jelas tertera di bagian belakang kursi penumpang.

1.       Fasten your seat belt while seated.
Eh, bukan yang ini ding…
2.       Life vest is under your seat.
Dan Anda dilarang memindahkan atau membawa pulang baju pelampung.  
3.       Karena penerbangan tanpa asap rokok maka dilarang merokok
4.       Menyalakan telepon seluler dan alat elektronika lain yang mengganggu navigasi penerbagan.

Larangan yang nggak tertera pun banyak, contohnya:
1.       Mengutil barang penumpang lain dan awak kabin
2.       Godain pramugari dan pilot saat mereka bertugas
3.       dll

Eh, tadi ngomongin apaan sih. Yah, pokoknya perjalanan kami tempuh dengan pesawat IATA (Indonesia Air Transport) selama 1 jam.  06.45-07.45 WITA. Sesaat setelah take off kami bisa menikmati pemandangan Soroako yang hijau dan apik dari atas. Sesekali anak saya berteriak, “Itu rumah kita! Itu danau tempat kita berenang! Itu gunung!” Hehehe heboh emang kalo bawa anak-anak kecil. Mohon maklum ya pemirsah.  Dalam hati saya berdoa, semoga Allah memberi kami kesempatan untuk datang lagi di Sorowako. Amiin.
Cuaca juga bersahabat, mendung mendung dikit. Waktu landing juga gak terasa gluduk gluduk, seperti masih berada di udara. Alhamdulillah.

“Selamat datang di Bandara Hasanuddin Makassar. Tidak ada perbedaan waktu antara Soroako dan Makassar”

Terminal kedatangan masih relatif sepi. Pengambilan bagasi juga cepat. Berhubung bawa anak kecil dua, dan ngambil koper yang terjepit di antara koper-koper besar, saya pun kesulitan. Ada seorang bapak yang membantu mengangkatkan koper ke atas trolly. Makasih banyak ya pak, mudah-mudahan tambah rejekinya. Amiin.

Cepat-cepat saya memutar menuju tempat check in mengikuti petunjuk arah “Pindah Pesawat”.
Wowwww, tempat check in penuh.. Riuh dan ngantri. Mirip lebaran. Saya baru ingat kalo beberapa hari lagi liburan sekolah usai. Walhasil, kami dapat kursi paling belakang (dekeat lavatory alias toilet) dan nggak bisa bersebelahan/berdekatan di satu deret bangku. Alhamdulillah anak-anak juga so far so good, enjoy aja.

Perjalanan ke Surabaya memakan waku 1 jam 10 menit.

Seorang awak kabin berkata, “Selamat datang di Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo. Ada perbedaaan waktu satu jam lebih lama dari waktu Makassar.”
Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo? I know …
Bandara Soekarno Hatta Jakarta di Banten? Pancen makaten..
Bandara Hasanuddin Makassar di Maros? Njih mpun ngertos…

Mohon maklumilah, sebuah kota besar tidak selalu punya tempat yang besar untuk sebuah bandara Internasional. Jadi harus mengandalkan wilayah kota/kabupaten di dekatnya.

Seperti orang ‘besar’, jangan merasa menjadi besar tanpa dukungan orang-orang di sekitarnya. Jangan meremehkan, jangan merasa paling besar.*selfreminder*