Jumat, 09 Oktober 2020

Trik Lolos Cegatan

 Woiiiii.. 😅 Only girls can feel this. Pagi-pagi pengen ketawa nemu postingan ini. Ya iyalah, relate banget. Dulu di jaman SMP dan SMA, hafal banget laaah, bahkan termasuk sebagian kenangan yang  masih saya inget....pelaku-pelakunya. 😆




Sekolahan saya dulu, yang SMP maupun SMA, nggak bertingkat. Nemu beginian biasanya sih di ujung lorong/koridor kelas atau nggak jauh dari gerbang sekolah di jam sebelum sekolah mulai, jam istirahat, jam kosong, dan jam pulang sekolah. 

Cewek kalo nglewatin mereka otomatis disorakin, atau sekedar disapa-sapa caper gitu. Wkwkwkwk. Kecuali kalo yang bergerombol begini adalah  cowok rohis mushola. Paling senyum-senyum geje, arau pura-pura nanya apaan yang geje juga.


Trik saya untuk bisa lolos cegatan dengan aman sentosa, antara lain :

1. Dari kejauhan berhenti sejenak, tarik napas. Celingak celinguk kiri kanan, kali aja ada temen yang mo diajak barengan. Lebih banyak lebih baik karena bisa menyamarkan keberadaan saya. 🤣

2. Kalo nggak nemu temen buat barengan, pura-pura mbenerin tali sepatu atau apalah. Biar terlihat sibuk, dan   tetep jaga imej. Mengulur waktu juga sambil mikirin strategi apaan. Wkwkwkwk. Kali ajaaa mereka bubar sebelum saya kudu lewat sana.

3. Nyari jalan alternatif lain, yang penting nggak nglewatin beginian. Memutar lebih jauh meski nampak wagu. Pedein aja. Kalaupun disorakin dan diteriakin, mending lah, kan dari kejauhan. 

4. Jika mau tak mau harus nglewatin ini, sendirian pulak, saya berjalan cepat-cepat. Pasang muka lempeng dan paling jutek. Meski sebenarnya campur aduk juga sih, antara takut, deg degan, sebel, dan pengen ketawa. Jaga imej dong aah. Kalo terpaksa harus berhenti karena dicegat, saya pasang muka galak. Berani macem-macem saya lawan. 🤣🤣

Padahal saya dulu agak tomboy, kenapa kok nggak kepikiran buat nantangin gelut yak? Atau sekalian ikutan nongkrong di situ jadi komandan pletonnya. Atau macarin salah satunya. (hehhh!!!) 😆

Hadeehh, masa-masa sekolah dulu kalo dikenang ya lucu-lucu gini bikin ngakak sendiri.

Jaman sekolah mbiyen, lho ini. Boro-boro mikirin negara, lha wong mikirin strategi dan hal-hal absurd beginian rasanya bikin hati jumpalitan. Boro-boro mau ikutan demo tentang isu kekinian, ngadepin kerumunan massa seuprit gini aja aku udah deg degan. Boro-boro mau membaca undang-undang yang tebalnya ratusan halaman, membaca perasaanku sendiri saja masih sulit. 


Ncen embuh og. 😌

Minggu, 06 September 2020

Recovery Luka Mental


Selama berinteraksi dengan orang, saya itu punya keyakinan bahwa tidak ada orang yang bener-bener mutlak baik atau pun yang mutlak buruk. Tak ada yang sempurna. Karena kita manusia biasa. Ada sisi buruk, ada sisi jelek. Ya begitulah.


Bagi sebagian orang, bisa jadi kita adalah orang yang punya seribu kejelekan. Tapi di mata sebagian yang lain, bisa jadi sebaliknya. 

Setiap orang berhak menentukan dengan siapa bergaul, bahkan berhak juga menilai baik atau buruk. Apa pun itu. Tetapi, kita jelas dilarang untuk berbuat jahat. 

Sebesar apapun rasa tidak suka, jangan sampai kita berbuat jahat. Kriteria perbuatan jahat itu nggak cuman sesuai yang tertera di pasal undang-undang tentang kriminal. Hal-hal yang nampak 'lumrah' bisa masuk kategori jahat. Misalnya membully, membunuh karakter dengan gosip, memfitnah, menjatuhkan mental secara terus menerus, dan lain-lain. 

Mungkin saya terkesan sok-sokan nulis beginian. 😅 Lha emang iyes, bagi saya jauh lebih mudah bicara daripada mempraktikkan. 

Tapi begini. Ada di suatu masa saya pernah mengalami bullying yang parah. Mental saya digerogoti orang-orang di sekitar saya. Ada orang-orang yang giat sekali menjatuhkan dengan berbagai cara, dari yang nampak halus sampai kasar dan terang-terangan. Sikap dan karakter saya pernah dikuliti dan disidangkan di depan banyak orang. Entah bagaimana, rasa sentimen dan insecurity bisa memprovokasi orang untuk beramai-ramai menghabisi. Ckckckck...

Saya tidak akan bercerita banyak, karena saya yakin sudut pandang orang berbeda. Kalian yang merasa dan menilai hal-hal tersebut wajar karena satu dan lain hal,  tidak bisa juga saya salahkan. Berlaku jahat ke saya, belum tentu jahat ke yang lainnya. Lagipula, sejahatnya orang toh masih ada sisi baiknya. Buktinya masih ada yang sudi berteman. Masih ada good lookingnya. --halaahhhh--🤧

Yang jelas, tak ada orang yang menginginkan hal itu menimpa dirinya, anaknya, mau pun keluarganya. Dilukai kanibal mental dan  toksik secara massif dan brutal begitu efeknya lumayan. Dan saya yakin, mereka tak peduli. Beneran, bahkan orang yang ngakunya  teman kadang juga bodoamat kok. 😅

***

Iya, saya pernah terluka. Dan luka itu meninggalkan trauma bertahun-tahun lamanya. Saya sempat tidak percaya diri dengan diri saya sendiri. Saya pernah sekilas yakin bahwa saya ini mutlak jelek, tak ada bagus-bagusnya. So sad. Saya sempat tidak pede bergaul, karena saya selalu merasa orang lain tidak bisa menerima diri saya. 

Namun, satu hal yang sangat saya syukuri adalah setitik kesadaran bahwa saya masih berharga untuk keluarga juga teman-teman saya. Bukan teman abal-abal, karena yang abal-abal ini justru mengerikan. Seolah-olah berlaku sebagai teman, tapi saat ada kesempatan dia juga ikut bersemangat menghabisi. 😅

Tapi, itu sudah berlalu. Bertahun-tahun saya belajar menerima dan me-recovery diri sendiri. Tak mudah, but it works. 

Luka itu memang pernah membuat saya hampir "mati". Tapi entah bagaimana caranya, Allah menyelamatkan saya. 


---


Buat kalian yang masih terluka, apapun penyebabnya, ingat baik-baik quote dari tausiyah Gus Baha' ini.


Jumat, 21 Agustus 2020

TIDAK AMAN KETIKA MERASA KALAH


Film "Tilik" ini memang relate dengan kehidupan nyata di sekitar kita. Atau malah jangan-jangan kita pernah mengalami atau melakukan hal begitu. Entah sebagai Dian, Yu Ning, Yu Sam, Yu Nah, Gotrek, atau malah Bu Tejo. Ndak usah saling tuding. 

Cuma, yang viral itu Bu Tejo dengan karakter dan lambenya yang sukses bikin gemes pemirsa. Lalu segala tingkah laku di atas bak truk (ladies on the top) itu auto disematkan pada kelakuan emak-emak.

Lha iya, emang kebanyakan yang ngeksis dengan cara begitu ya emak-emak. Di kampung, dalam acara tilik, ya semacam itu kurang lebihnya. Di acara rewang (bantu masak di tetangga yang punya hajat), ya begitu. Di arisan, atau apalah, pokoknya dalam acara yg berkerumun, jarak dekat maupun jauh.

Tapi jangan salah, di kalangan bapak-bapak juga ada fenomena kayak gini. Mirip fenomena sein kiri belok kanan yg selalu disematkan pada emak-emak. Saya, emak beranak tiga, selama jam nyetir saya di jalanan sering juga ketemu laki-laki pengendara motor yg kelakuannya begitu. Dari jenis anak-anak, mas-mas, sampe bapak-bapak.

Di kampung, bapak saya itu pernah jadi ketua RT selama bertahun tahun. Menyelesaikan segala macem urusan adminitrasi sampai kericuhan akibat lambe-lambe turah. Jangan cuman ngebayangin yang punya pemancar siaran rakyat cangkem turah indonesia tuh cuma kalangan perempuan. Yang model Bu Tejo, tapi wujudnya bapak-bapak juga adaaaa.

Memang sih, tak ada asap tanpa api. Tapi seringnya sih, apinya di mana, asapnya ke mana mana. 

Di film "Tilik" ini yang jadi objek rasan-rasan adalah Dian. Memperhatikan banyak dialog lalu ending cerita, yang jebulnya Dian adalah calon istri bapaknya Fikri, keresahan Bu Tejo cs ini menggambarkan karakter yang insecure.

Keberadaan Dian yang cantik dan modis ala orang kota, dilihat sebagai ancaman pada stabilitas rumah tangga mereka. Mengetahui level kekayaan Dian, Bu Tejo yang sombongnya tipis tipis itu pun merasa tersaingi.

Yang begini relate nggak sih dengan kehidupan kita? Ya di sekitar, ya di media sosial. Ada yang nampak punya kelebihan trus auto jadi objek rasan-rasan. Ada yang nampak lebih cantik, lebih ngeksis, lebih kaya, lebih pintar, apalah apalah. Lalu segala dugaan dan penerawangan atas secuil fakta yang terlihat, sentimen itu digoreng sedemikian rupa, dicampur bumbu hoax dan fitnah. Disebar ke sana ke mari,  akhirnya terjadi pembunuhan karakter.

Nah hal-hal seperti itu awalnya hanya sepele saja. Perasaan insecure. Perasaan tidak aman. Perasaan tersaingi, padahal belum tentu ada yang berniat  menyaingi. 

Dan, berdasarkan pengalaman saya (((pengalaman))), berhati-hatilah terhadap orang-orang insecure. Di depan nampak baik, di belakang ya gitu deh. Kayak Bu Tejo gitu, di depan Dian cuman imbas-imbis nggak jelas. Namun, segala cara bisa dilakukan untuk menjatuhkan, bahkan  dengan hoax dan fitnah sekalipun.

Lalu, solusinya apa? Dadi uwong ki mbok sing solutif ngono lhoo, kata Bu Tejo. 

Kalau saya sih, jaga jarak aman alias menjauh. Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita tampakkan tidak mungkin menyenangkan semua orang. Bagi orang insecure, apapun bisa jadi "api"nya. Jadi, interaksi sekadarnya saja.  Latihan legowo sebanyaknya. Karena kita tidak bisa mengendalikan perilaku orang lain. Terlebih lagi lambenya. 😅😂

Selasa, 21 Juli 2020

Rasa Pahit




Salah satu rasa yang susah dilupakan dari ingatan adalah rasa pahit. Rasa yang nempel di makanan atau pun kenangan. Eaaa..

Wait, ini mau bahas yang ada kaitannya dengan makanan. Saya punya kenangan pahit, banget malah, dengan sayuran bernama sawi.

Duluuuu waktu masih SD, nggak tau dapat wangsit apaan ibu saya tuh tiba-tiba suka masak sayur sawi. Ndilalah adik-adik saya suka. Jadilah berhari-hari di rumah selalu tersedia sayur sawi. Nah, kebetulan saat itu saya lagi sakit thypus atau DB (lupa), kan mulut pahit banget tuh. Ndilalah makan sayur itu kok rasa pahitnya jadi berlipat ganda. Sampai lekat rasanya, susah ilangnya. Wis jiaaann kayak kenangan pahit.

Sejak itu saya nggak doyan sawi, blassss. Lihat bentuknya saja langsung berasa pahit di mulut. Dulu waktu jaman kuliah ngeliat teman-teman pada panen sawi, terpaksa deh lihat  tumpukan sawi di ruangan sambil menahan pahit yang meneror lidah, perasaan, dan ingatan. Sementara orang pada gembira tapi saya tersiksa. 😅

Entah bagaimana, melihat penampakannya saja, mulut berasa pahit. Kayak gini : melihat orang motong buah lemon trus lemonnya dimakan begitu saja. Dibrakoti. Auto ngeces, kan? Membayangkan betapa kecutnya.

Berkat tekad yang dikuat-kuatkan, sekarang sih saya udah doyan makan sawi. Tapi setiap makan sawi, inget kenangan itu. Masa-masa sakit. Trus inget lebaynya saya kok sampai bertahun-tahun diteror rasa pahit.

Ternyata kenangan pahit bisa ilang kalo kita nggak lari dari kenyataan. __lesson learned 😂😂

Begitu pula dengan baking powder. Dulu waktu masih awal-awal coba per-baking-an, perkuehan dll, saya pernah menambahkan baking powder terlalu banyak. Alhasil rasa kuenya pahit. Pahitnya beda. Nempel di ingatan. Lalu, nyaris nggak pernah lagi pakai baking powder. Wkwkwkwk.

Saya membeli BP untuk perkuehan ketika ingin mencoba resep onde-onde ketawa.  Meski tetep ya, was was dengan rasa pahitnya.

Jadi saat saya posting onde-onde mesem, harap jangan julid duluan. Memang takaran baking powder saya kurangi drastis.

Takut pahit. Cemen akutu. 😌

Rabu, 06 Mei 2020

Ambyar, Antara Nostalgia dan Rasa yang Layak Dijogeti

| Sewu kutho uwis takliwati
| Sewu ati taktakoni
| Nanging kabeh podo ra ngerteni
| Lungamu ning endi
| Pirang taun anggonku nggoleki
| Seprene durung biso nemoni
| Wis takcoba nglalekake
| Jenengmu soko atiku
|Saktenane aku ora ngapusi
|Isih tresno sliramu

Baper nggak dengan lagu Sewu Kutho? Nggak cuman baper, kalo saya malah ada rasa ambyar ambyarnya gitu.
Bukan karena saya punya kenangan khusus dengan lagu itu. Bukan juga saya punya alur cerita hidup yang sama kayak di lagu itu. Hamosok saya melanglangbuana ke seribu kota, dan seribu hati hanya untuk mencari seseorang, lalu patah hati dan mengenang cintanya sampai sekarang. Bukan. Wkwkwkwkwk.

 Sepertinya, lagu itu ngehits dan sering saya dengar lalu saya hafal liriknya, bersamaan dengan episode hidup saya yang diwarnai rasa ambyar... eh pait dan getir karena sesuatu. Rasa yang terwakili oleh sebait dua bait lagu sedih itu.

Yaah.. tidak cuma lagu itu saja sih. Ada beberapa lagu yang rasanya pernah jadi soundtrack di sepotong episode hidup saya dulu.
Lagu Kasih Tak Sampai-nya Padi misalnya. Lagu patah hati yang bercerita tentang kisah cinta dua manusia.  Di saat saya mendengarkan, saya teringat rasa patah hati sepatah-patahnya. Bukan karena cinta. Tapi karena lain hal dan lain cerita. Rasanya mirip. Ambyar, getir, putus asa, pasrah, tapi sekuat tenaga mencoba bertahan dan melanjutkan kehidupan.

Mendengarkan lagu-lagu sedih jaman lawas kadang seperti menggali kenangan. Di tempat yang dulunya tersembunyi, tertutup rapat, dan mungkin hanya diri sendiri yang tahu dan paham. Segetir-getirnya, seambyar-ambyarnya, senangis-nangisnya, seluka-lukanya. Lalu saat iramanya sudah bisa dijogeti tanpa kegetiran yang menguras air mata, kenangan itu cukup digali sesaat lalu dpindahkan ke tempat yang lebih layak dan tak lagi menjadi beban. Sekadarnya saja diingat dan sesekali dikenang. Ibarat menengok kaca spion, pandangan dan tujuan tetap ke depan. Segala kenangan yang manis dan pait memang itulah yang harus dilewati dan dirasakan.

Sabtu, 23 November 2019

Rush Morning yang Kamisosolen

Kalo pagiku udah kamisosolen begini, biasanya aku lebih mencari aman untuk jam-jam berikutnya, terutama siang, menghindari rush. ~helehgayamumbak. 😅 Monmaap jika kadang ada aja acara atau undangan saya batalkan alias tidak bisa hadir. Lelah hayati. Wkwkwkkwk.

Ngene lho,
kadang-kadang aku yo suibuk harang koyo wong liyane.

Kadang-kadang ya merasa gedabukan begitu berkejaran dengan waktu. Antar yang ini yang itu, beli ini itu, siapin ini itu, dan ngepasin waktu ini itu. Dalam durasi waktu yang bersamaan.  Rush. 😅

Kadang-kadang segala rencana yang sepertinya untuk hari ini udah tersusun rapih langsung ambyar karena sesuatu hal.

Yo mung itu cuman kadang-kadang. Seringnya yo santuyyyy. 😁 Lha masih sempet sosmedan, memantau segala isu di lini masa jugak. Dari isu remeh temeh sampe isu poleksosbudhankam. Meski kadang akhirnya merasa terintimidasi..eh terbaperi oleh postingan tentang parenting, nasehat buat perempuan,  tips langsing, tips glowing dan laen laen. Wkwkkwkwk.

Kadang-kadang lelah hayati berkompromi dengan segala sesuatu. Kadang terintimidasi oleh rengekan anak-anak dan makanan yang tidak dihabiskan. Belum lagi menghadapi anak-anak jaman now yang mana orang tua harus tanggap segala isu per-gadget-an. Kadang seperti patah hati ketika anak-anak membantah dan sedikit berulah. Kadang merasa lelah, kadang pengen sambat, kadang merasa something wrong entah di bagian mana. Kadang juga terbebani dengan keinginan diet yang tak sejalan dengan kemauan. Ehh..😅

Tapi bagaimanapun itu, tetep yaaa, kerjaan rumah dan kewajiban sebisa mungkin ditunaikan masiyo hari bertabur dengan sing ambyar ambyar. Wkwkwk. Umpomo sego kucing, dikareti meneh gaesss. 😂

Handuk yang berserakan itu gak punya kaki sendiri untuk kembali ke habitat semula. Begitu pula buku dan baju yang berserakan.

Baju-baju itu enggak bersayap jadi ndak mungkin bertengger sendiri di jemuran.

Maenan yang berserakan nggak masuk sendiri ke box-nya kayak mainan di pilem animasi.

Perut laper juga gak ujug-ujug kenyang.


Lha yo kui ming contohnya. Masih buanyak yang laen, dan itu setiap hari harus dihadapi dan ditindaklanjuti supaya situasi tetap terjaga. Tetapi kadang praktek tak semudah teori. Wkwkwkwk. Dibawa santuy aja, dan saking santuynya dang kadang dua jam rush morning, akutu lima jam me time plus leyeh-leyeh santuy. 😂😂😂

Jumat, 11 Oktober 2019

Kisah di Musim Ilalang

Hampir saja,
aku menemukan alasan untuk membencimu
sekali lagi.

Seperti halnya aku membenci keping suram
yang kukubur dalam
sedalam kisah kolak dingin yang tertukar.

Andai namamu tak pernah lagi kuingat,
dengan segala resah dalam episode ingatanku yang payah

Mungkin aku bisa.

Apakah aku serupa luka yang ingin kau sembunyikan?

Apakah aku serupa debu yang hendak kautepiskan?

Apakah aku serupa bayangan yang tak kauharapkan?

Tidak.

Aku tidak bertanya pada cucian yang sudah di-spin tapi belum diberi sabun

Aku juga tidak bertanya pada beras dalam mejikom yang belum diceklekkan

Aku hanya bertanya,
pada daun-daun serai yang bergemerisik

juga pada gelagah alang-alang yang berdecit disapu angin.

Ngilu.


Jumat, 19 Juli 2019

Baju Adat Berbahan Sampah Plastik



Beberapa kali mengikuti sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga, agak mending lah buat menaikkan derajat pemikiran saya yang tadinya setengah jongkok jadi seribu empat ratus lima puluh satu per dua ribu sembilan ratus jongkok. Naik dikit. 😅

Minimal ada perasaan bersalah saat membuang sampah sembarangan. Ada juga sedikit rasa ndak enak saat melihat tempat sampah di rumah penuh dengan sampah plastik, entah dari kemasan makanan, perlengkapan rumah tangga, maupun kantongan kresek. Belum lagi kalau ketambahan habis belanja onlen yang bungkusannya berupa plastik berlipat ganda. Lha njur kudu piye...

Makanya saya senang-senang saja saat anak saya ditunjuk sekolah mewakili untuk lomba fashion show baju adat dari sampah daur ulang di tingkat Kabupaten Luwu Timur. Kira-kira butuh waktu sebulan, saya menghabiskan puluhan lembar kemasan plastik dari beras, deterjen, snack dsb. Juga sedotan susu  UHT yang diminum anak-anak di rumah, kardus snack, bubblewrap, tutup botol air kemasan dan lain-lain. Menyesuaikan dengan tema dan tujuan lomba yang digaungkan, saya mencoba memanfaatkan sampah rumah tangga semaksimal mungkin dalam komposisinya. Tanpa pewarnaan, tanpa cat. Warnanya adalah warna asli dari sampah.

Sesuai dengan temanya yaitu baju adat, saya mencari referensi ke sana kemari tentang baju adat. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat baju adat Minang semacam ini yang biasa disebut baju Bundo Kanduang. Nyari referensinya ya tinggal dudul hape. Wong saya bukan orang Minang. Saya orang Jawa, suami orang Sunda. Hehehe. Serta tidak mudah melatih anak yang bawaannya rada tomboy untuk membawakan baju ini di stage. Apapun itu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. 

Terima kasih untuk semua pihak yang sudah membantu dan mensupport, mulai dari ide, bahan, dan pembuatan. Terima kasih khususnya pada pihak sekolah SD YPS Lawewu yang sudah memberi kesempatan dan bimbingan buat anak kami. Mohon maaf belum bisa memberikan hasil juara. ☺🙏

Kita adalah penghasil sampah terbesar di planet ini. Mari kita tumbuhkan rasa peduli, mulai dari hal kecil, dimulai dari diri sendiri, ditanamkan di keluarga dan anak-anak kita. Demi lingkungan dan kehidupan yang bersih dan baik.

Sorowako, 10 April 2019

Tentang Sebuah Kucing



Ini kucing kesayangan anak saya. Mungkin dia peranakan angora atau persia. Saya tidak tahu pasti. Yang saya inget kucing ini sudah lama dianggap seperti bagian dari keluarga. Beli di sebuah toko di kawasan kota Palopo saat anak sulung usianya belum genap 2 tahun. Saya beli dengan gaji pertama mengajar di sebuah bimbel. Saya pernah ngajar di bimbel sambil bawa anak kecil. 😁

Iya, ada masanya dulu saya berikhtiar mencari kerjaan. Utamanya demi melepas jenuh. Predikat ibu rumah tangga tanpa karir, gaji, kerjaan sendiri pernah membuat saya galau. Meski pun pada akhirnya saya sadar bahwa solusi dari kegalauan itu bukan dengan cara membalik keadaan. Apalagi hanya demi menepis anggapan orang, karena sejatinya bagaimana pun kita tetap akan ada komentar dan anggapan. Cuekin aja bhaayyyy. 😀 Butuh proses untuk menyadari bahwa masing-masing orang ditakdirkan dengan jalannya masing-masing. Semua tak harus sama. 

Kembali ke kucing tadi. Saya sangat menyukai boneka dan gambar kucing, tapi tidak dengan kucingnya. Sementara di rumah mertua selalu ada kucing peliharaan. Jadi setiap mudik kucing ini selalu ikut. Dari sejak anak lanang usianya belum genap 2 tahun sampai sekarang kucingnya diakuisisi oleh anak ketiga. Totalnya entah sudah berapa kali dia ikut kami mudik.  Ikut check in, melewati security check, naik pesawat, naik bis, naik kereta, naik mobil.. Pergi pulang. Pulang pergi. Pernah sekalinya ketinggalan di rumah Bapak saya di Lasem. Heboh dunia persilatan. 😅 Akhirnya dipaketkan ke Sorowako. 

Saya pikir dia sudah biasa ikut traveling. Meski kadang dimasukkan dalam tas ransel atau tas tenteng. Kadang digendong-gendong. Ndak rewel. 😁Eh tapi, waktu di security check Bandara Hasanuddin Makassar kemarin itu, langkah kami dihentikan petugas. Ada sesuatu dari barang bawaan kami sehingga alat detektor berbunyi. Bukan dari koper, tapi tas gambar Dora. 

"Ini isinya apa, Bu? Mainan, ya?" tanya petugas.
"Dibuka saja, Pak. Ndakpapa." kata saya. Lalu saya membuka tas. "Mainan, buku, alat tulis, boneka, tayo, amber.."

Petugas mengeluarkan boneka kucing. Lalu berbicara pada petugas lainnya. Dia meremas bagian kaki boneka. "Oh, mungkin ini yang menyebabkan bunyi."

Butiran styrofoam. 

Kami tertawa tertahan. Hampir saja boneka kesayangan disita petugas. Mungkin, ada bahan pembuat boneka yang terdeteksi sebagai pembuat bom atau apalah. Gak paham saya.

Alhamdulillah, ada lagi cerita pelengkap liburan mudik kali ini. Seru. Lebih seru lagi karena liburan ini sedikit lebih lama dari biasanya. Lho maaakk, ngeneki lho penaknya jadi ibu rumah tangga yang pengangguran. Nggak mikirin kudu masuk kerja tanggal berapa. 😀

Memang ya, segala sesuatu yang kita anggap masalah kadang hanya berupa tantangan yang musti kita taklukkan. Menghadapi komentar negatif tentang ibu rumah tangga tak bekerja, misalnya. Kita jalani saja setiap momennya sambil belajar dan berproses. Toh kita yang menjalani, bukan orang lain. Orang lain eh dan netizen sih paling bisa emang kalo komentar. Jadi ya, enjooooyyy saja. Sampai datang komentar baru sejenis ini, "Duuuh enaknyaaaaa, bisa liburan lama. Ngabisin uang doaaanggg. Kayak gue dooonggg, mending dibeliin emas berlian uangnya." bla..bla..blaa..
Wkwkwkwkwk...

Menyelami Hikmah yang Tuhan Kehendaki

Petang itu, saya sholat berjamaah dengan ibu bapak saya. Hal yang lazim saya lakukan saat saya masih tinggal di rumah itu. Setelah sholat, bersalaman dan mencium punggung tangannya. Lalu ikut berzikir dan mengamini doa-doanya. 

Jauh dalam lubuk hati, saya mengingat dan bersyukur. Doa-doa mereka selama ini yang menemani hidup kami, anak-anaknya. Hingga seperti sekarang ini. Menuju kehidupan yang lebih baik, lebih baik lagi daripada sebelumnya. 

Saya ingat,  kenangan di suatu masa yang sulit. Entah hikmah apa yang Tuhan kehendaki, cobaan serasa bertubi-tubi menimpa keluarga kami. Mungkin dari luar tidak kelihatan, tapi di dalam terasa sekali. Kegoncangan demi kegoncangan. Ibarat orang lain melihat kendaraan melaju dengan mulus, padahal penumpang di dalamnya merasakan getaran dan goncangan. Tapi, kami kuat. Meski ada sedikit, satu dua, atau tiga empat, atau sebelas duabelas ketika kesabaran mulai terkikis tanpa sadar meninggalkan luka goresan. Yang kadang lama disembuhkan. 

Pada masa itu, dengan ijin-Nya, saya adalah gadis yang sakit-sakitan. Pernah, saat liburan kuliah, saya pulang dalam kondisi sakit agak parah. Ibu saya berikhtiar membawa ke dokter spesialis di sebuah klinik swasta. Saya ingat, biaya obat, pemeriksaan, USG dll menghabiskan biaya cukup besar. Untuk kondisi kami saat itu tentunya. Obatnya saja 80.000 rupiah, jaman itu. Besar. Lha biaya kuliah saya saja 450.000 per semester. Biaya makan di kost nggak sampai 200 ribu sebulan. 

Saya ingat, saat pulangnya, sambil menunggu kendaraan umum, kurang lebih ibu saya bilang begini, "Makanya jangan sakit, kalo sakit habis biaya banyak." Saya hanya terdiam. Menyadari banyak hal, termasuk ~cincin~ gelang saya yang baru saja dijual. Bahkan kondisi perekonomian kami memang tidak stabil saat itu. 

Sedih. 

Sejak itu saya bertekad dan berharap. Saya ingin kehidupan yang jauh lebih baik. Buat kami semua. Alhamdulillah, meski bukan proses instan, tapi keadaan perlahan tapi pasti berubah. Semua hal, termasuk kesehatan saya. 

Sejak lama saya tidak sakit-sakitan. Hal yang menakjubkan mengingat waktu dulu. Yaah meski kadang ada alergi kambuh, alhamdulillah. Seperti saat liburan mudik kemaren itu. Sinusitis saya kambuh agak berat, sampai telinga nyeri dan kepala pusing. Berminggu-minggu. Lha kok cocoknya dibawa ke klinik itu lagi. Sambil mengingat, sambil bersyukur itu yang saya rasakan setiap saya ke klinik itu. 

Saya yakin, bahkan segala perasaan saya bernostalgia menghadapi sakit pun tak lepas dari doa-doa orang tua saya. Tak henti saya berdoa semoga Allah memuliakan mereka di hari tuanya. Amiin.

Ngepel



Daripada nyetrika, saya lebih seneng ngepel. Ada di suatu masa saya tertarik beli alat pel sebutlah spin mop, tapi kok kurang cucok. Kepala pelnya pakai yang mirip tali itu. Sepaket sama embernya. Agak berat. Trus hasilnya nggak kering seketika. Lalu saya punya pilihan alat pel sebutlah spray mop. Lapnya sejenis microfiber yang praktis. Ini sebenarnya andalan saya, sebelum akhirnya tabung semprotnya rusak. Itu pun masih bisa diakali dengan kucuran manual dari sebotol air isi cairan pengepel. Tapi setelah tangkai pelnya patah, hatiku pun patah. Eaaaa... Terpaksa balik ke man..eh alat pel semula, yaitu spin mop. Ini mbahas ngepel, mblo. Bukan mbahas Prabowo-Jokowi udah ketemu, trus kamu ketemu dia kapan. 😂

Ngepel pake alat yang nggak saya suka, nggak sanggup aku, Bhaaaang. 
Akhirnya cari-cari alat pel di online market. Karena yang sebelum-sebelumnya pun saya beli secara online. Tentu saja selain liat barangnya,  sambil ngitung ongkirnya. Cari yang minimalis, kalo bisa yang gratis. Eh. 😅

Akhirnya dapatlah sesosok barang ini. Judulnya lazy mop. Kayaknya kok asik. Cucok buat yang lazy lazy cem saya nih. Mudah-mudahan awet sih. 
Hari ini sehari pasca rekonsiliasi cebbie kempie, saya berencana ngepel rumah. Saya cek di aplikasi dodolan, barang saya masih dalam pengiriman. Yo wis daripada daripada, saya ngepel manual pake lap microfiber bekas spray mop. Iya, ngepel manual kayak jaman baheula. Jadi inget jaman hamil tua, kan sering disarankan ngepel dengan posisi begini. 

Hasilnya memang lebih kesat. Lebih bersih. Tapi baju bawahan saya jelas basah. Kaki juga dingin, tangan juga anyep, mana suhu ruangan 19 dercel. 
Baru selesai ngepel ruangan depan yang merangkap ruang tengah, saya udah ngos-ngosan. Masih mau lanjut gak, nih. Udah nyaris separuh rumah, tanggung. 

Tiba-tiba bel pintu bunyi. Kurir ekspedisi membawakan alat pel baru. Wowww...retio ngono ndekmau ngepelku taktunda  juuuuuumm. Ngenteni pel sing anyar. Tiwas kesel, tur teles kabeh ngene. 
😅 


Minggu, 11 November 2018

Sepasang Entah

--Permisi, pengen menggalau dan menggombal pagi-pagi, terinspirasi dari sepasang sandal selen yang membuatku merasa entah.

Sepasang Entah

Kita adalah sepasang resah yang saling bercerita
tentang jejak luka yang pernah tersematkan
di ujung jemari
dan lembar lukisan usang
tertancap di langit yang begitu jauhnya

Kita adalah sepasang angan yang pernah berdiri di sini
saling terdiam
tanpa sepatah kata
hanya kepak sayap kupu-kupu
yang hinggap dari mata ke ujung mata

Kita adalah sepasang sendu yang saling memaki
lalu getir menertawakan kupu-kupu 
yang begitu bodohnya 
meninggalkan kerlip mata kita
menembus tetes hujan yang begitu derasnya

Kita adalah sepasang kata yang  terkubur
dalam jutaan alfabet berserak
tak ada yang peduli
tak ada yang mengingat
hanya diam
hingga ombak mengantarnya ke muara
tanpa suara

Kita adalah sepasang bayangan yang bertukar sapa
bergumam jejak segala rupa
dalam hujan
dalam terik
dalam kerontang
dalam senyap

Dan kita adalah sepasang gamang yang tak pernah saling melupa
tentang lukisan
tentang angan
tentang kupu-kupu
tentang kata
tentang ombak

Entah atas nama apa
kita yang pernah saling melukai
lalu berdiri di sini
hanya untuk sama-sama saling menyakiti 
dalam resah
dalam diam
dalam sendu
dalam gamang
dalam luka
Entah.

-sorowako, dalam nopember yang belum rain.


Senin, 01 Oktober 2018

Melawan Ndredeg Pasca Gempa

Tahun 2005 saya merantau di Sulawesi, mengikut suami yang sudah duluan terdampar di pulau ini. Saat gempa besar yang melanda Donggala dan Palu kemarin, saya mendapat banyak pesan/komentar masuk, lewat WA atau facebook,  yang menanyakan kabar.

Alhamdulillah, posisi kami di Sorowako, agak jauh dari lokasi gempa sesungguhnya. Kabarnya yang bergerak adalah sesar Palu Koro. Sementara Sorowako dan sekitarnya ada di atas sesar Matano. Keduanya konon termasuk sesar aktif di Sulawesi. Getaran yang sangat kuat memang kami rasakan  waktu magrib tanggal 28 September lalu. Sangat kuat, dan saya sampai ndredeg (gemetar)  juga pusing. Dalam satu jam berulang-ulang dengan intensitas semakin melemah.  

Sambil menunggu dan waspada, juga menenangkan ke-ndredeg-an, saya sempat mengapdet status dan mengabarkan di WA atau facebook.   Saya menghubungi orangtua, menjawab pertanyaan dari saudara, kerabat, teman lama, juga teman baru. Sambil mantengin berita televisi, menunggui anak-anak, juga mengobrol di medsos. 

Saya sadar, ternyata banyak yang perhatian. Ehhmm. 😉  Kirain teman-teman nggak inget gitu sama akyu yang merantau sekian lama di Sulawesi. Teman-teman lama di grup WA maupun di facebook, juga teman-teman di dunia maya yang bahkan kami belum pernah bakudapa' alias bertemu muka ikut bertanya kabar dan mendoakan. Termasuk cah kono, cah kene, juga cah kae.  Mamaciiwww yaahh kakak kakak semuwaaa... 😘 Ailapyu pokokmen. 

Terkhusus untuk teman-teman lamaku di grup SMP, kalian kok ya perhatian gitu. Torang basudara. Kirain akutu cuman jadi pemanis belaka 😂 Ehhhh... 

Ternyata sedari sore bahkan sudah ada yang nanyain kabar gempa (yang waktu itu belum terasa kuat goncangannya sampai Sorowako), ada yang nawarin jamu patpoo tjap jaran buat obat kaget dan ndredeg, ada yang berbagi lagu serpihan masa lalu buat ngilangin ndredeg, ada yang berbagi makanan meski pun hanya dalam bentuk gambar, dan banyak juga yang mendoakan. Meskipun akhirnya malam itu begadang, ndredeg saya ilang. Tapi tetap sih sedih dan ngeri ngliat berita gempa dan tsunami lewat televisi. Mari kita doakan dan support bersama. Untuk Donggala,  untuk Palu, untuk Indonesia. 

Oya, ini adalah gambar pertolo. Kadang disebut juga petulo, pertulo,  petolo, putu mayang dan sebagainya. Jajan pasar ini adalah klangenan saya. Selalu saya cari saat mudik. Dari dulu, sering saya apdet ceritanya lewat pesbuk. 

Di Lasem,  kutambatkan cintaku pada pertolo karena cintaku kutemukan di tempat lain. 😂Eaaaa.. raup sik, Mbaaakkk!  

Gambar pertolo ini saya pungutin di grup WA kawan SMP.  Dengan penuh perasaan dan nostalgia. Mirip saat saya memunguti serpihan dan kenangan masa lalu saat mendengarkan lagu-lagu lawas tahun 90-an. Halaahhh, mbel...Mbakkkk!😪

Hei, kamu yang ikutan baper.. raup dulu sana! 😂

*foto bersumber dari grup WA yang judulnya Ritula 95 😊😊


Rabu, 26 September 2018

Untukmu yang Merasa



Jikalau kamu merasa hidupmu sangat sibuk 
sehingga kamu sibuk menunjukkan pada dunia tentang kesibukanmu
mungkin kamu hanya perlu 
untuk lebih sibuk lagi
pada apa-apa yang kauanggap sebuah kesibukan itu

Jikalau kamu merasa keheninganmu 
adalah sesuatu yang membuatmu merasa antara ada dan tiada
bagi apa yang sudah kamu jadikan ada
maka keramaian akan mencarimu
hingga ia bosan dan lelah
lalu membiarkanmu untuk lebih baik 
menghilang dalam hening

Jikalau kamu sadar bahwa keberadaanmu
membuatnya merasa berada
pada sisi yang benar-benar ada
maka janganlah kamu mengada-adakan
sebuah ketiadaan 
hanya untuk membuatnya
merasa hampa dan tiada

--loph, pisss, jongkong, dan pertolo

Senin, 24 September 2018

Membuat Tempe Setipis Kartu ATM



Izinkan aku nulis yang rada menyerempet isu kekinian. Eh, kekinian atau udah agak ketinggalan ini yak? 😅 
Tentang tempe. Yang berbahan baku kedelai.

Menurutku,  juara tempe terenak masih dipegang oleh tempe yang sedari kecil memanjakan lidahku. Iya, tempe made in Lasem yang bungkus godhong (daun) jati. Tempenya kecil-kecil, kalau mau goreng ndak usah repot memotongnya. Harganya mungkin masih lima ratusan rupiah. Mau diapakan juga enak. Dimakan mentah-mentah aku pun doyan. Mbaaakk, doyan atau nganu sih. 😂

Yang istimewa dari kemasan tempe kecil adalah rasa jamurnya yang khas. Dan karena model kemasannya, jelas jamurnya jadi lebih banyak. Beneran banyak, meski nggak sebanyak serpihan kenanganmu saat dengerin lagu Sheila On Seven.  Ya kaaan? Ehemmm. 

Iseng aku nyoba nih, bikin tempe kemasan kecil. Yang mirip tempe mendoan gitu. Harapannya sih bisa setipis kartu ATM. Kartunya baaaaang, bukan isinya doong. Ya, kan? 

Jadi aku beli tempe bakal (tempe yang jamurnya belum nampak berkembang) di pasar. Harga dan ukuran masih sama ya gessss seperti sebelum rame-ramenya isu belanja-seratus-ribu-dapat-apa. Sebungkus harganya lima ribu. Rupiah. Bukan dolar atau euro. 

Sampai rumah aku bergegas nyari daun di halaman belakang. Tebas-tebas dapat beberapa lembar daun pisang. Jemur bentar biar agak layu. Mau dipanggang di atas api kompor, lha kompornya jenis kompor listrik yang ndak ada apinya gitu gessss. Nggak mashooook kata Pak Eko. 

Kemasan tempe bakalan harga lima ribu itu kubongkar. Butiran kedelai kutata di atas selembar daun kecil. Terus ditutup daun atasnya. Taruh lagi butiran kedelai hingga rata, terus tutup lagi dengan lembaran daun. Begitu seterusnya. 

Begitu-seterusnya bagiku itu cuman tiga ya gesss. Tiga kali menata butiran debu.. Eh kedelai.  Pegel wkwkwkwkwk. Jebul nggak segampang seperti yang dibayangkan. Kudu telaten ngono, gesss. 

Nampan wadah tempe yang kuharap bisa kayak tempe mendoan itu kusimpan dengan seksama. Butuh waktu  semalam untuk melihat jamurnya bekerja maksimal. 

Besoknya gesssss.... akhirnya jadi juga. 
Meski masih jauh dari harapan. 
Harapannya bisa setipis kartu ATM. Atau kalau memungkinkan bisa setipis ingatanmu kepada mantan.  Eaaaaa.... Jeru mbaakk, jeruuuuu... 

Namun, apa daya. Fakta berbicara lain. 

Tempe mendoanku hanya setipis tiga kartu BPJS. Tigaaaa!!  Atau bisa jadi lebih tebal. 
😁😁

Recehan yang Boleh Kamu Kesampingkan



Sesekali nulis yang rada serius. Tapi panjang. Yang nggak kuwat skip aja gaesss.  
Boleh kan, gaesss? 

Jadi sudah beberapa lama saya itu ndak nyetatus kekinian.  Entah sudah berapa berita politik saya lewatkan untuk saya statuskan. Entah sudah berapa kehebohan warga netijen saya lewatkan begitu saja tanpa status yang cetar. 

Toh, hidup saya baik-baik saja. 
Aman malahan. Saya ndak perlu baku komentar saling ngotot yang ujung-ujungnya keberpihakan politik. Kabar walikota di dekat ibukota sana yang ketangkap KPK kalo saya statuskan bisa sampai level nyinyir nomer suwidak rolas. Demi membalas kenyinyiran pendukungnya yang saban hari lewat  di linimasa.  Kabar anggota DPRD di suatu kota di Jawa Timur yang tersisa beberapa orang saja kalo distatuskan bisa pedes juga. Mau bikin status tandingan buat para pemain tagar-tagaran ah  malas juga.  Meski ada bahan.

Sakarep-karepnya situ aja, lah. Saya mendingan milih tetap waras di hingar bingar jagad persosmedan. Apalagi di tahun politik kayak begini. 

Saya memilih untuk bersikap layaknya netijen retjeh. Karena saya tahu diri. Itu. 
Meski dengan begitu saya dicap tidak menjadi pembela golongannya sendiri. Atau justru saya dicap masuk dalam barisan musuh. Ngggg... Ini ngomongin sosmed sih ya, bukan ngomongin perang-perangan. 🙄🙄

Whatever, lah. Saya kira sudut pandang setiap orang nggak bisa digebyah uyah, disamaratakan begitu saja. Ya sudut pandang, ya pemikiran, ya pertimbangan, dan segala sesuatunya. 

Sama halnya begini. Saya pikir kamu menghinakan diri dengan rajin menyebar hoaks demi dukungan politik, tapi di sisi lain kamu menganggap dirimu sedang berjuang di jalan suci. Yang tidak sependapat kamu anggap tidak mendapat hidayah dan lagi tersesat jalannya. ---tiba-tiba aku pengen raup 😑😑😑

Daaaaaannn begitu pun sebaliknya. Jika kamu menganggap saya hanya menyebar yang ndak jelas ndak jelas, yang gak penting gak penting, yang ndak bermanfaat ndak bermanfaat, yang receh receh, yang embuh embuh, ketahuilah.... bahwa emang benar begitu adanya. 😁😁

Lhaaaa tapinya...
Ini ada tapinya. Nggak semua orang punya kesukaan dan kecenderungan seperti yang kamu punya. 

Ada orang-orang yang akan mumet setiap buka pesbuk langsung mak tratap ketemu statusmu yang selalu berat mbahas isu kekinian dengan tendensi politik yang sangar. Buka grup wasap ketemu lagi postinganmu yang nyrempet politik. Itu lagi itu lagi. Selalu dan always. 

Bayangkan jika yang model begitu adalah lima dari lima belas temannya. Atau  sebelas dari sepuluh temannya.  Bisa dipastikan dia segera tutup akun atau left grup WA.

*

Saya pernah jadi aktivis waktu kuliah. Di BEM Fakultas. Juga pernah bersinggungan di kegiatan politik partai tertentu yang tidak perlu saya sebutkan namanya yang sekarang namanya lebih panjang dari pada namanya waktu pertama tayang. 

Jadi kalau saya lewat di temlen dengan status yang agak-agak nyangkem tentang politik,  itu kadang artinya ya.. mungkin saya lagi kurang bahan untuk ngecipris. Atau level kenyinyiran saya lagi naik beberapa derajat. 😅😅

Saya juga pernah mengalami masa sulit, di mana saya merasa down dan terlalu fokus pada hidup saya sendiri. Ambyar pokokmen rasanya waktu itu. Dan di saat itu lagu-lagu dari seseband bernama PADI yang setia menemani dan menginspirasi.  😁 Bukan nasehat-nasehat berbobot berat, bukan support dari kawan yang pernah satu perjuangan... Halaaahh. 

Cuman lagu.  Iya lagu.  
Eehh.. Selain itu juga puisi-puisi Lukman A. Sya yang sering muncul di kolom sastra koran Republika setiap minggu. Dari situ saya seperti mendapat inspirasi hidup.  Saya belajar berdamai dengan diri saya sendiri. Berdamai dengan hidup.  Belajar mengisi waktu dengan hobi dan kesenangan buat diri sendiri. Pokokmen ngono. 

Bagi sebagian orang,  lagu hanya sekadar lagu. Puisi sekedar puisi. Tapi pada saat tertentu ada orang yang menganggap hal-hal sekedar itu adalah hal berharga. 
Demikian juga, apa yang dianggap orang sebagai recehan yang pantas dikesampingkan bisa jadi adalah hal yang sayang untuk dilewatkan bagi sebagian [kecil] yang lain. 

Saya pernah baca status seseorang, yang pernah dapat pengakuan dari orang yang selalu membaca statusnya, meski tanpa menjempoli atau komen. Followernya itu adalah seorang survivor kanker. Membaca status seseorang itu adalah hiburan baginya. Menemaninya untuk sekadar melupakan rasa sakitnya. 

See, bahkan kadang seseorang tidak pernah tahu bahwa ada orang-orang yang bisa jadi terinspirasi dengan postingannya di media sosial. Mungkin ada orang yang dalam sunyinya menanggung beban hidup, tapi ada postingan yang bisa menemaninya untuk sekadar tersenyum atau sesaat melupakan getir hidupnya. 

Bahkan saya yakin sekali, itu grup band Padi tidak pernah tahu bahwa di suatu masa ada seseembak yang jelita (lariiiii... takut dibalang netijen 😆). --ralat lah, seseembak yang jelata -- yang merasa ditemani lagu-lagunya. Tetaplah menjadi bintang di langit, mbak.  Apapun yang terjadi. 😄

Seseembak yang dulu pernah ngaku dirinya sobatpadi sekarang telah bermetamorfosis menjadi seseemak dengan label sobatgabah.  Dan balamejikom tentunya. 
Lalu dia ngaku sebagai netijen receh di gegap gempita sosmed. Kadang nyetatus yang embuh-embuh, yang ndak jelas ndak jelas,  yang entah... Entah menginspirasi atau malah bikin eneg. 😅

Entah dia itu siapa.

Marimar Ulang Tahun


Ceritanya Marimar ulang tahun. Kagak ada perayaan atau heboh-hebohan. Entah kenapa H-1 nggak ada tanda-tanda orang serumah inget kalo besoknya Marimar ulang tahun. Iseng Marimar wasap Sergio, yang kebetulan lagi di Jekardah.

"Sesuk tanggal piro, Mas?"

"xx" Datar tanpa emoticon apapun. 

"Sesuk iki tanggal lairku." 

"Oiya..poho aing."

"Tukokke kado yo, nek sisan ngemol. Hotele kan ning duwure emol."

"Kado naon? Bunga?"

"Liyane lah."

"Baju?"

"Ojo..palingan ra iso milih sing cocok."

"Naon atuh?"

"Pokoke kado."

"Meuli we di shopee."

"Yaelaaahh..."

Hahahaha Sergio tahu kalo Marimar sejenis onlenshopper. Akun Sergio penuh dengan pesan dan notifikasi belanjaan emak-emak.

Yaaahh daripada nglangut, Marimar bikin kado buat dirinya sendiri.
Dari mulai menentukan model (nyontek dari buku), menerawang caranya, motong, njahit...akhirnya jadi setelah hampir satu purnama. Alias hampir satu bulan! We o we khaaann?

Marimar senang.
Akhirnya punya tas idaman.
Meski proses membuatnya cukup ngos-ngosan.
Lumayan jadi bekal untuk ngumpulin recehan.
Bukan begitu, Sergio?

Sergiooooo...jawab akuuh.

Bukan Dilan


Bayangkan, malemnya nonton Dilan..trus paginya kamu dapat kiriman foto gerbang sekolahanmu yang dulu. Kalo Dilan 92 waktu SMA, sementara yang ini gerbang sekolah saya tahun 1992-1995. Yaaa, berarti masih lebih muda daripada Milea. Waktu Milea SMA, saya masih duduk di bangku SMP. Tapi tetep ya, bisa dibilang angkatan tuwa, dilut engkas kepala empat umurnya. Oke, kamu ndakpapa kan? Fain.

Jadi begini,
Saat saya ngeliat foto aslinya ini, yang dijepret kawan lama, saya agak deja vu rasanya. Seperti perasaan yang entah, saat saya mengeditnya dengan aplikasi snap seed kebanggaan saya. Iya, entah. Trus agak baper. Asemik, kok gini amat yak...dikit dikit baper. Baper kok dikit-dikit. 

Kamu, yang angkatan tuwa kayak saya, pernah nonton Dilan kan? Mirip kayak gitu rasanya. 
Ada lucu-lucunya, ada gemes-gemesnya, ada romantisnya, ada jengkelnya, ...hahaha.

Rasa deja vu itu menurut saya seperti begini : mendadak kamu mengecil, menyusut, lalu terlempar jauh ke masa lalu. Trus bingung sendiri, karena banyak hal yang kamu lupa. Oke, untuk ingatan yang sedikit payah kamu butuh kawan-kawan lama yang bisa berbagi cerita dan mengorek ingatan lamamu. Kalau kamu masih tak ingat dan kebingungan sendiri, perasaan deja vu itu bisa jadi menghantuimu tanpa kamu tahu apa penyebabnya. Kamu terlempar begitu saja, tapi bingung tentang apa, mengapa, dan bagaimananya. Ngilu jadinya. Seperti decitan hamparan gelagah alang-alang disapu angin. Eaaaaa. Namun jika kamu menemukan frekuensi yang tepat, kamu bisa ingat secuil masa lalu itu. Palingan seru-seruan dan baper-baperan aja, kan. Sampe sini paham?

Nah, sebenarnya setiap mudik Lasem, saya berkali-kali lewat gerbang sekolahan itu. Tapi belum pernah sekali pun saya foto. Cuman nunjukin ke anak dan suami, ini lho sekolahan saya waktu SMP. 
Saya rasa gerbang ini tak hanya bersejarah bagi saya, tapi bagi banyak orang. Dan banyak itu uakeh. Akeh sak emboh ngunu lak an.

Bagi saya, gerbang itu pernah jadi saksi diri ini datang dan pergi ke sekolah, menuntut ilmu, bersenang - senang, merajut kisah demi masa depan, mengalami romantika anak yang beranjak remaja, daaaaaan banyak lagi.

Dulu saya pulang pergi sekolah naik sepeda. Warna biru. Mengayuh sepeda sejauh beberapa km dari rumah. Oya rumah saya yang madep ngidul itu ya. 😋 Waktu itu jalanan pantura Lasem belum terlalu padat kendaraan bermotor, namun sudah beraroma TLQJRN yang klasik itu. Itu lho sisa emisi kendaraan yang kita sebut dokar. Hahaha. 

Parkiran sepeda di sekolah selalu penuh, lha belum musim motor dan antar jemput mobil je. Jadi kalau kesiangan, kami agak susah memposisikan sepeda supaya bisa parkir bener. Nah kalau datangnya kepagian, parkirnya gampang tapi susah mengeluarkan sepeda dari parkiran pas jam pulang. Trus kalau satu sepeda roboh, deretan sepeda sebelahnya bisa ikutan roboh kayak deretan susunan kartu. Bruuukk.. 

Karena belum jamannya hape dan sosmedan, jadi kadang pesan-pesan masuk terselubung bisa mak bedunduk ditemui di boncengan sepeda. Ada pula yang modus minta tumpangan/boncengan buat pedekate. Atau bahkan ada yang terang-terangan tiap hari nyegatin sebelum keluar gerbang. Bukan kamu, tapi cah kae. 😁

Lumayan menyenangkan ya, masa-masa SMP. Banyak lucu-lucunya. Meski kadang ada sedikit kekacauan dan yang embuh embuh gitu. Tapi asik. 

Meski ndak ada kisah DilanMilea-ku saat itu, tapi tetap ada lah ya sedikit kisah roman picisannya. Tapi ndak akan kuceritakan padamu. Cukup aku wae. Trus tiba-tiba pengen rikwes lagu galau. Hahahaha. Hasembuh.

Senin, 20 Agustus 2018

Waspadalah Saat Kamu Lapar

Waspadalah saat kamu lapar.

Haeeee gaess,

Kamu, cah kae, aku dewe, cah kono, cah kene...
Pernah merasa laper sangad? Kelaperan ampe kamu nggak bisa fokus dan nganu. Nganu pokokmen.

Ini gegara ada temen (anggep aja begitu 😁) nyetatus tentang efek lapernya. Emak-emak laper lagi nyetir di jalanan Bandung, sampai dia teriak-teriak ngatur polisi yang lagi ngatur lalu lintas di tengah kemacetan. Kebayang kan polisinya ampe menatapnya penuh sambat tiada tara.

Wooww. Hahaha. Ngapain ada Ratna Sarumpaet di mari, mungkin begitu di pikirannya 😎

Aku sih belum pernah kayak gitu. Apalagi kalo pas nyetir. Lha misale lihat pak polisinya nampak ganteng dan sholeh lagi ngatur lalu lintas, masa kudu macak ala kucing gelud gitu? Iki ming misale lho yaaa... Umpamanya. Selaper-lapernya kalo aku laper ya tetep macak solehah. ---ini dalam konteks perandaian dan cita-cita.  Ming macak, mungkin. Bener solehah atau ndaknya mungkin bisa dilihat dari timbangan.....ye kan? Timbangan amal perbuwatan. Otewe sholihah lah yaa..amiin.
Atau macak syantik. Atau macak Atiqah Hasiholan. 😁

Lalu aku urun komen. Cerita nggedabrus macem aku kalo lagi kenyang. Macam kamu kalo lagi nggombal, eaaa... 

Tadinya aku pikir, aku nggak punya cerita tentang kelaperan yang konyol. Aku ingat-ingat seperti yang biasa aku lakukan saat sadar bahwa ingatanku cukup payah.

Woiyaaaa aku pernah... Suwaad itu pagi. Pagi itu sebelum siang, yes 

Aku kudu bergegas bikin sarapan. Aku sendiri lapar, karena malamnya makanku cuman dikit. Yaaahh...demi BB yang katanya mendekati solehah itu. Naahh, kalo pagi itu menu paling ideal buat emak rempong beranak tiga adalah nasi goreng. Ya kan? Nasinya yang udah ada di mejikom sedari malam. Kamu gak perlu ngajarin aku untuk bikin nasi goreng. Srang sreng srang sreg pake bumbu instan juga jadilah. Naahh anakku kan sukanya pake kecap. Nyari kecap di laci-laci dapur jebul raib. 

Trus aku nyari di meja makan. Jebulnya ada. Basa basi dikit sama pak suami yang lagi ngopi dan nonton tipi. Mbahas berita di tipi. Sedikit rasan-rasan kembelgedezan huru hara politik.  Wis ngeciprisnya, aku ke dapur lagi nerusin bikin nasgor. Srang sreng srang sreng... Yaaakkk tuaaang kecapnya...seerrrr...dalam gerakan memutar ala chef di tipi. 

Eh lha kok. Ini kecap apaaa??? Kok putih? Keluaran terbaru? Emang ada?!
Haee, aku bertanya padamu wahai nasi goreng dalam wajan maspion di atas kompor tjap Frigidaire!!
Ee lhadalah...jebul eskaem. Alias kental manis, dalam wadah plastik yang mirip dengan wadah kecap. 

Lututku langsung lemes. Laperku ilang. Jadi emosi dan embuh banget. 😑😑😑
Dan kamu jangan tanya kenapa begitu. Pokoknya jangan.

---curhatan emak rempong yang kadang embuh, kadang hasembuh, kadang....

Perempuan Emang Baper

Hari ini aku mulai dengan baper. Sangat.
Bukan tentang kamu, atau cah kae. Atau cah kono sing omahe sebelah kene. 

Bukan. Ini tentang aku dewe.

Aku teringat sesuatu yang hampir aku lupakan rasanya, tapi tiba-tiba teringat lagi. Harusnya aku sudah lupakan, atau setidaknya jangan pernah ingat kembali. Tapi yaa kadang ada pemicu yang seperti sekop menggali-gali apa yang sudah terkubur dalam.

Aku pernah di suatu masa memilih untuk resign dari sebuah pekerjaan yang aku impikan sejak lama. Yang aku idamkan dengan sangat. Pekerjaan atau kalo boleh dibilang karir, yang baru aku rintis di awalnya. Resign begitu saja. 
Itu terjadi sesaat setelah menikah. Suatu keputusan yang kuambil sendiri dengan sadar tanpa paksaan. Dan mungkin saat itu tidak terpikirkan olehku semua konsekuensi dan hal-hal yang menjadi resikonya setelah itu. 

Ini tentang aku dewe. Emak-emak yang tidak punya pekerjaan atau karir, alias pengangguran. Aku yang dulu pernah dan sering di-underestimate orang hanya karena pengangguran. Yang dulu sering ambyar atine saat mendapati ternyata wanita karir lebih dipandang secara sosial dan ekonomi, juga dengan derajat permakluman yang tinggi. Yang sering merasa nganu kalo orang membanding-bandingkan aku dengan si anu dan anu yang nampak punya pekerjaan. Aku yang sering bingung mengisi kolom "pekerjaan" di formulir segala macam. 

Ini tentang aku dewe. Bukan kamu, cah kae, atau cah kene sing omahe kono.  Aku dulu pernah minder saat bertemu kawan lama, hanya gara-gara pertanyaan, "Kamu kerja di mana?" Aku dulu juga sering baper hanya karena anggapan bahwa istri tidak bekerja hanya menghabiskan gaji suami. Seburuk itu kah?

Sekarang sih aku sudah pede. Saat kawan lama menghubungi, menanyakan kabar, serta pekerjaan sekarang aku akan me njawab santai, "Aku nggak kerja. Aku pengangguran. Kerja nggak kerja tetep minta gajian."

Kalau ada pertakonan kenapa aku nggak kerja bla bla bla, aku juga sudah punya jawaban tanpa aku harus ikut-ikutan mempertanyakan keputusan wanita tetep bekerja atau berkarir. Yaaa...itu perlu proses. Perlu pembuktian, juga konsistensi dari apa yang sudah disepakati. Butuh bertahun-tahun sampai aku bisa merenungi hidup dan makna hidup sawang sinawang, juga perjalanan hidup masing-masing orang yang tidak bisa dihajarblehkan begitu saja. Lantas aku menjadi bijak? Tidak juga. Buktinya aku masih baper, kadang-kadang.

Memang sih, keputusan tidak bekerja itu kuambil sendiri, tentu saja dengan persetujuan suami. Ah, aku merasa sempurna berada di sisinya. (Gajian masih lama, Maaakk...gombalnya ntar aja 😁😁). Kami mengawali biduk rumah tangga dengan seadanya. Dia yang mengurus semuanya, aku kebagian bapernya. Hahaha. Ya memang begitu sih ya. 

Perempuan tercipta istimewa untuk menyimpan goresan-goresan luka sepanjang hidupnya. Sebagian termaafkan, sebagian terkubur dalam, sebagian menjadi trauma. 

Itulah bedanya dengan laki-laki, Mz.

Jadi kalo hari ini aku baper, ya itu cuman baper saja. Tak ada yang berubah dari sikap dan keputusanku serta kesepakatan bersama hanya gara-gara kebaperan ini.  

Mungkin aku hanya perlu diajak traveling, shopping, atau ke salon. 

*catatan 13 tahun pernikahan, yang kami sering lupa tanggalnya itu