Selasa, 24 November 2015

Festival Danau Matano, Mari Mengenal Sorowako

Tak kenal maka tak sayang. Pepatah yang lazim dikoar-koarkan supaya kita lebih saling mengenal serta membangun imej positif tentunya. Coba kalau kita punya kenalan atau tetangga baru. Okelah, hal pertama kita tahu namanya. Lalu rumahnya. Apakah hanya dengan tahu saja kita akan mengenalnya? Hanya dengan melewati rumahnya kita bisa menilai orangnya? Jelas tidak. Tapi untuk main ke rumahnya, kudu ada alasan dong. Biar nggak kentara basa basinya. Hihihi...

Minta garam kek, atau minta belimbing wuluh depan rumah. Asal jangan minta saham aja. Nah..tentu kita akan bersemangat datang ke rumahnya sekedar berkenalan jika ada acara. Misalnya onde-onde rumah baru, hajatan, makan-makan dan lain-lain. Kita bisa ngobrol, makan, dan saling mengenal. 

Here we go. Beberapa daerah yang dulunya kurang terkenal sekarang mulai bergaung namanya dan semakin dikenal. Banyuwangi dengan Festival fashionnya. Tomohon dengan Festival bunganya. Toraja dengan event Lovely Desembernya. Maka...tahun ini Sorowako akan dimeriahkan dengan event skala besar dengan judul Festival Danau Matano. 

Acara yang kabarnya menelan biaya milayaran ini diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Luwu Timur, dan dianggarkan dalam APBD. Konon kabarnya disponsori juga oleh PT Vale Indonesia, sebagai perusahaan tambang di sini. 
Acara akan digelar tanggal 27-29 Nopember 2015. Sejumlah kegiatan akan meramaikan seperti aneka water sport and recreation, wisata tambang di area pertambangan nikel PT Vale, music performance dan lain-lain.

Mungkin akan ada pula gelaran lapak-lapak kuliner. Jangan lupa kalau makan di warung, bayar ya.. Hihihi.. ini bukan macam konggres-konggresan, dek. 

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke sini, jangan khawatir. Meskipun ini kota atau kampung kecil, tapi hotel dan penginapan bejibun. Gratis? Ya mbayar dong, dek. Plis deh, ini festival untuk menggenjot pariwisata. Bukan konggres-konggresan.

Oke, sekian pengumuman dari saya. Semoga menambah wawasan dan pilihan Anda yang akan berlibur akhir minggu ini.
Come and join!


*foto yang saya sertakan adalah area wisata Pantai Ide Danau Matano yang ada di kompleks perumahan Pontada, Sorowako. 
Apik, kan? Cucok laah buat syuting drama atau pilem. Hihihihii 

Selasa, 20 Oktober 2015

Merasa Luar Biasa


Sore-sore yang masih terasa terik, kami bermain depan rumah. Saya dan anak-anak. Saya momong, refreshing, sambil pesbukan. Multitasking yang rasanya embuh. Sesekali sambil merenung, menerawang jauh..mikirin masa depan bangsa dan negara ini. #halaah, lambemu Mak.

Main outdoor begini mungkin terasa sedikit mewah bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan, hunian sempit dan minus lahan hijau. Bagi kami, yg tinggal di kampung..dan terpencil ya dah biyasah. Bukan hal yang warbyasah lagi. Main dedaunan, berlari di rerumputan, berburu belalang, nonton manuver burung elang...

Yaaa memang terkadang saya menemukan hal- hal baru, yang luar biasa seperti ini. Kulit belalang atau selongsongnya. Anak- anak sih udah nggak heran dengan yang beginian. Mereka udah sering nemu. Tapi bagi saya? Yang begituan itu saya amat-amati lalu saya photo. Untung nggak pake adegan ndlongop. Rasanya pengen bengok-bengok, "Iki lhooo!! Aku nemu apik. Apiiikkk banget. Pasti kamu belum pernah nemu. Pasti kamu ndak tau. Ya kan?"

Selongsong kulit belalang ini memang menakjubkan.
Namun saya merasa hebat pada saat ini, melebihi kehebatan spiderman dan baalveer. Hahaha. *sokbangetdahgua
Padahal kalo disurvey, bisa jadi sebelas dari sepuluh orang sudah pernah melihat selongsong kulit belalang seperti ini. Dan saya adalah orang ke-11 itu. Buktinya mak jleb di depan mata. Saya diketawain anak saya. Katanya, kok baru tahu? Hihihi memang sih kurang nya wawasan bisa berbuah kekonyolan.

Begitulah, kadang bagi kita saat menemukan hal-hal yang baru itu rasanya luar biasa, warbyasaah pokoke. Sampai-sampai kita pengen memberitahu semua orang tentang keluarbiasaan ini. Padahal bagi yang lain itu hal yang biasa. Sekali lagi, biasa.

Krupuk Goreng Pasir a.k.a Krupuk Mlarat


Entah bagaimana sejarahnya, di rumah kami rata-rata adalah penggemar kerupuk. Kami sering beli kerupuk dalam bentuk mentahnya. Tapi jarang sekali saya menggorengnya. Lha kenapa, Mak? Apa krupuknya dipelototin aja sampe jamuren? Atau disimpan dalam pigura? No..nooo..krupuknya ya dimakan. Prosesnya dipanggang dalam oven. Kadangkala kalau lagi selo ya digoreng pake pasir. Selain diklaim lebih sehat tanpa minyak goreng, sepertinya krupuk panggang atau krupuk goreng wedi/pasir lebih melatih kesederhanaan.Bukankah kita seyogyanya membiasakan hidup dengan standar biaya murah to? Eh, benar gitu nggak sih?

Biar pun mampu beli minyak goreng, ndak apalah sekali-kali atau berulangkali nggoreng krupuk pake pasir. Hihihi katakanlah antisipasi jikalau tiba-tiba minyak goreng langka di pasaran. Atau tiba-tiba harga melambung tinggi. Atau ada seruan boikot minyak goreng gara-gara darurat asap? Sapa tau kan? Iya kan? *golek pembenaran.

Di Jawa krupuk goreng pasir disebut krupuk mlarat. Iya, nama yang sedemikian 'rendah'. Padahal, yang dipandang 'rendah' pun kadang diperlukan umat. Pengiritan dan hidup sederhana. Hidup dengan biaya murah tidak identik dengan kerendahan. Pun tidak identik dengan hal-hal yang tidak keren dan tidak kekinian. *iki mbuh jare sopo.

 Yaah..seperti kerupuk-kerupuk yang bermekaran dan terus-terusan kepikiran dalam pasir panas ini. Lebih murah, hemat, dan sehat timbangane digoreng pake minyak. Menurut saya juga lebih kriuk dan nggak mblengeri.

Resepnya, Mak? Wooo nanti dulu. Jari jemari saya dah pegel. Nantikan di postingan berikutnya. Stay tune ya, gaeeesss... *halah..your kitchen, Maaakk


Jadi begini. Menggoreng krupuk pake pasir itu ada tata caranya. Ada alat dan bahannya.
1. Bahan utama jelas krupuk. Kalo repot mbikin, ya beli aja. Biasanya saya pake krupuk berbahan dasar tapioka, macam krupuk bawang atau krupuk udang yang kecil cap Larissa. *wahahaha nyebut merk gak papa yo?

2. Siapkan pasirnya. Saya sih nyari pasir fresh dari pinggiran danau Matano. Secukupnya aja. Tadinya sih mau pake truck buat ngangkut pasirnya, tapi haiyoo arep nggo nggoreng krupuk opo arep gawe bangunan Mak? Bisa juga pakai pasir pantai laut. Jangan pasir colongan ya, jangan juga pasir yang tercemar ee ucing. Pasir lalu dicuci pake air bersih supaya lumpurnya ilang. Kaya nyuci beras gituh. Lalu jemur sampe kering.  Selanjutnya ayak pake ayakan gajah..eh saringan teh.

3.Panaskan pasir dalam wajan atau panci. Jangan yg teplon atau yg lapis diamond. Sayang soalnya. Pake yg biasa aja, yg murah. Yang penting nggak bolong.

4. Setelah panas, masukkan krupuk mentah secukupnya. Aduk-aduk sampai mengembang. Jangan sekali-kali mengaduk pakai tangan kosong.

Panas, tau! Angkat pake serok, biarkan pasirnya terjatuh. Kan mau makan krupuknya, bukan pasirnya to? Tapi kalo kemakan pasirnya dikit ya ndak apa, tambah kriuk kok wahahaha


Senin, 19 Oktober 2015

Ancen Ngene


Ngene iki lho penake urip ning kampung jenenge Sorowako. Akeh banyu, akeh wit-witan, akeh mobil tapi ra macet, tur mugo-mugo akeh rejeki. Nek isuk suara manuk saut-sautan, mbuh manuk opo wae. Elang mabur nduwur wit-witan ketok gedi banget. Sakpitik jago kae. Munyuk ireng kadang dolanan sekitar omah. Iki lagi usum alpokat. Dilut maneh usum nongko, njuk kui pelem, njuk rambutan.

Ning kene akeh warga pendatang soko luar Sorowako. Ketoke luwih akeh pendatang timbangane penduduk asli.

Aku ra mudeng boso Sorowako, tapi untunge ning kene wong-wong podo nganggo boso Indonesia. Lha iyo to, iki iseh Indonesia. Sisih timur. Sulawesi Selatan sing mepet Sulawesi Tengah. Nek ning pasar aku sering malah nganggo boso Jowo, soale akeh sing dodolan kui wong Jowo. Bakul tomat lombok, bakul tempe tahu, bakul perabotan barang pecah belah, bakul semongko, bakul gado-gado, bakul bakso, bakul es dawet, pokoke akeh lah. Aku nganti bingung, iki Sorowako opo ngendi? Yo wis lah, nek sing ngerti sejarah transmigrasi yo mestine paham.

Iki Setu Minggu prei kerjo, prei sekolah. Iki mesti gym lan jogging track rame. Hawane adem tur silir. Njuk aku ki posting tulisan ngene karepku piye? Iyooo...ra piye-piye. Mbangane ra nulis.

*mohon maap buat yang merasa roaming.

Resep Sanggara Peppe Ala Saya


Sesekali bikin pisang goreng yang nggak manis. Di sini ada yang namanya 'sanggara peppe', kurang lebih artinya pisang goreng keprek. Bahan yang diperlukan sederhana, pisang kepok mentah, garam, bawang, minyak goreng.

1. Siapkan pisang mentahnya. Pertama-tama galilah lubang, lalu tanam tunas pisang.  Tunggu hingga berbuah, lalu ambil pisang sebelum matang dan keduluan diambil monyet. Lama yak? Praktisnya sih, beli aja di pasar. Atau nunggu kiriman dari tetangga hahaha.

2. Kupas pisang hingga semua kulit terbuang. Ingat, kupas secara hati-hati. Pisau itu tajam, Jenderal! Dan berhati-hati dengan efek dari getah pisang mentah. Noda kehitaman dan lengket di tangan.

3. Goreng pisang glundungan tsb hingga terlihat matang. Anda bisa sambil pesbukan, twitter an, atau baca koran. Jangan sambil jalan-jalan atau tiduran. Awas, bahaya kebakaran!

4. Tiriskan pisang tadi, lalu keprek dan gebuki pake munthu/ulegan. Ndak usah lebay pake popor senapan ya, gaess.. Apalagi nggebukin pake hak sepatu. Setelah penyet, dan pisang terlihat tidak berdaya maka lumurilah dengan bumbu. Bumbunya cukup air dikit ditambah bawang putih + garam yang sudah dihaluskan.

5. Goreng lagi hingga kemriuk. Aroma bawang akan menyeruak menerobos saraf penciuman.

6.Hidangkan dengan sambel tomat.

Rasanya lumayan.
Kriuk di luar, gurih dan kenyal di dalam.
Anda mau nyoba?