Selasa, 21 Juli 2020

Rasa Pahit




Salah satu rasa yang susah dilupakan dari ingatan adalah rasa pahit. Rasa yang nempel di makanan atau pun kenangan. Eaaa..

Wait, ini mau bahas yang ada kaitannya dengan makanan. Saya punya kenangan pahit, banget malah, dengan sayuran bernama sawi.

Duluuuu waktu masih SD, nggak tau dapat wangsit apaan ibu saya tuh tiba-tiba suka masak sayur sawi. Ndilalah adik-adik saya suka. Jadilah berhari-hari di rumah selalu tersedia sayur sawi. Nah, kebetulan saat itu saya lagi sakit thypus atau DB (lupa), kan mulut pahit banget tuh. Ndilalah makan sayur itu kok rasa pahitnya jadi berlipat ganda. Sampai lekat rasanya, susah ilangnya. Wis jiaaann kayak kenangan pahit.

Sejak itu saya nggak doyan sawi, blassss. Lihat bentuknya saja langsung berasa pahit di mulut. Dulu waktu jaman kuliah ngeliat teman-teman pada panen sawi, terpaksa deh lihat  tumpukan sawi di ruangan sambil menahan pahit yang meneror lidah, perasaan, dan ingatan. Sementara orang pada gembira tapi saya tersiksa. 😅

Entah bagaimana, melihat penampakannya saja, mulut berasa pahit. Kayak gini : melihat orang motong buah lemon trus lemonnya dimakan begitu saja. Dibrakoti. Auto ngeces, kan? Membayangkan betapa kecutnya.

Berkat tekad yang dikuat-kuatkan, sekarang sih saya udah doyan makan sawi. Tapi setiap makan sawi, inget kenangan itu. Masa-masa sakit. Trus inget lebaynya saya kok sampai bertahun-tahun diteror rasa pahit.

Ternyata kenangan pahit bisa ilang kalo kita nggak lari dari kenyataan. __lesson learned 😂😂

Begitu pula dengan baking powder. Dulu waktu masih awal-awal coba per-baking-an, perkuehan dll, saya pernah menambahkan baking powder terlalu banyak. Alhasil rasa kuenya pahit. Pahitnya beda. Nempel di ingatan. Lalu, nyaris nggak pernah lagi pakai baking powder. Wkwkwkwk.

Saya membeli BP untuk perkuehan ketika ingin mencoba resep onde-onde ketawa.  Meski tetep ya, was was dengan rasa pahitnya.

Jadi saat saya posting onde-onde mesem, harap jangan julid duluan. Memang takaran baking powder saya kurangi drastis.

Takut pahit. Cemen akutu. 😌

Rabu, 06 Mei 2020

Ambyar, Antara Nostalgia dan Rasa yang Layak Dijogeti

| Sewu kutho uwis takliwati
| Sewu ati taktakoni
| Nanging kabeh podo ra ngerteni
| Lungamu ning endi
| Pirang taun anggonku nggoleki
| Seprene durung biso nemoni
| Wis takcoba nglalekake
| Jenengmu soko atiku
|Saktenane aku ora ngapusi
|Isih tresno sliramu

Baper nggak dengan lagu Sewu Kutho? Nggak cuman baper, kalo saya malah ada rasa ambyar ambyarnya gitu.
Bukan karena saya punya kenangan khusus dengan lagu itu. Bukan juga saya punya alur cerita hidup yang sama kayak di lagu itu. Hamosok saya melanglangbuana ke seribu kota, dan seribu hati hanya untuk mencari seseorang, lalu patah hati dan mengenang cintanya sampai sekarang. Bukan. Wkwkwkwkwk.

 Sepertinya, lagu itu ngehits dan sering saya dengar lalu saya hafal liriknya, bersamaan dengan episode hidup saya yang diwarnai rasa ambyar... eh pait dan getir karena sesuatu. Rasa yang terwakili oleh sebait dua bait lagu sedih itu.

Yaah.. tidak cuma lagu itu saja sih. Ada beberapa lagu yang rasanya pernah jadi soundtrack di sepotong episode hidup saya dulu.
Lagu Kasih Tak Sampai-nya Padi misalnya. Lagu patah hati yang bercerita tentang kisah cinta dua manusia.  Di saat saya mendengarkan, saya teringat rasa patah hati sepatah-patahnya. Bukan karena cinta. Tapi karena lain hal dan lain cerita. Rasanya mirip. Ambyar, getir, putus asa, pasrah, tapi sekuat tenaga mencoba bertahan dan melanjutkan kehidupan.

Mendengarkan lagu-lagu sedih jaman lawas kadang seperti menggali kenangan. Di tempat yang dulunya tersembunyi, tertutup rapat, dan mungkin hanya diri sendiri yang tahu dan paham. Segetir-getirnya, seambyar-ambyarnya, senangis-nangisnya, seluka-lukanya. Lalu saat iramanya sudah bisa dijogeti tanpa kegetiran yang menguras air mata, kenangan itu cukup digali sesaat lalu dpindahkan ke tempat yang lebih layak dan tak lagi menjadi beban. Sekadarnya saja diingat dan sesekali dikenang. Ibarat menengok kaca spion, pandangan dan tujuan tetap ke depan. Segala kenangan yang manis dan pait memang itulah yang harus dilewati dan dirasakan.

Sabtu, 23 November 2019

Rush Morning yang Kamisosolen

Kalo pagiku udah kamisosolen begini, biasanya aku lebih mencari aman untuk jam-jam berikutnya, terutama siang, menghindari rush. ~helehgayamumbak. 😅 Monmaap jika kadang ada aja acara atau undangan saya batalkan alias tidak bisa hadir. Lelah hayati. Wkwkwkkwk.

Ngene lho,
kadang-kadang aku yo suibuk harang koyo wong liyane.

Kadang-kadang ya merasa gedabukan begitu berkejaran dengan waktu. Antar yang ini yang itu, beli ini itu, siapin ini itu, dan ngepasin waktu ini itu. Dalam durasi waktu yang bersamaan.  Rush. 😅

Kadang-kadang segala rencana yang sepertinya untuk hari ini udah tersusun rapih langsung ambyar karena sesuatu hal.

Yo mung itu cuman kadang-kadang. Seringnya yo santuyyyy. 😁 Lha masih sempet sosmedan, memantau segala isu di lini masa jugak. Dari isu remeh temeh sampe isu poleksosbudhankam. Meski kadang akhirnya merasa terintimidasi..eh terbaperi oleh postingan tentang parenting, nasehat buat perempuan,  tips langsing, tips glowing dan laen laen. Wkwkkwkwk.

Kadang-kadang lelah hayati berkompromi dengan segala sesuatu. Kadang terintimidasi oleh rengekan anak-anak dan makanan yang tidak dihabiskan. Belum lagi menghadapi anak-anak jaman now yang mana orang tua harus tanggap segala isu per-gadget-an. Kadang seperti patah hati ketika anak-anak membantah dan sedikit berulah. Kadang merasa lelah, kadang pengen sambat, kadang merasa something wrong entah di bagian mana. Kadang juga terbebani dengan keinginan diet yang tak sejalan dengan kemauan. Ehh..😅

Tapi bagaimanapun itu, tetep yaaa, kerjaan rumah dan kewajiban sebisa mungkin ditunaikan masiyo hari bertabur dengan sing ambyar ambyar. Wkwkwk. Umpomo sego kucing, dikareti meneh gaesss. 😂

Handuk yang berserakan itu gak punya kaki sendiri untuk kembali ke habitat semula. Begitu pula buku dan baju yang berserakan.

Baju-baju itu enggak bersayap jadi ndak mungkin bertengger sendiri di jemuran.

Maenan yang berserakan nggak masuk sendiri ke box-nya kayak mainan di pilem animasi.

Perut laper juga gak ujug-ujug kenyang.


Lha yo kui ming contohnya. Masih buanyak yang laen, dan itu setiap hari harus dihadapi dan ditindaklanjuti supaya situasi tetap terjaga. Tetapi kadang praktek tak semudah teori. Wkwkwkwk. Dibawa santuy aja, dan saking santuynya dang kadang dua jam rush morning, akutu lima jam me time plus leyeh-leyeh santuy. 😂😂😂

Jumat, 11 Oktober 2019

Kisah di Musim Ilalang

Hampir saja,
aku menemukan alasan untuk membencimu
sekali lagi.

Seperti halnya aku membenci keping suram
yang kukubur dalam
sedalam kisah kolak dingin yang tertukar.

Andai namamu tak pernah lagi kuingat,
dengan segala resah dalam episode ingatanku yang payah

Mungkin aku bisa.

Apakah aku serupa luka yang ingin kau sembunyikan?

Apakah aku serupa debu yang hendak kautepiskan?

Apakah aku serupa bayangan yang tak kauharapkan?

Tidak.

Aku tidak bertanya pada cucian yang sudah di-spin tapi belum diberi sabun

Aku juga tidak bertanya pada beras dalam mejikom yang belum diceklekkan

Aku hanya bertanya,
pada daun-daun serai yang bergemerisik

juga pada gelagah alang-alang yang berdecit disapu angin.

Ngilu.


Jumat, 19 Juli 2019

Baju Adat Berbahan Sampah Plastik



Beberapa kali mengikuti sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga, agak mending lah buat menaikkan derajat pemikiran saya yang tadinya setengah jongkok jadi seribu empat ratus lima puluh satu per dua ribu sembilan ratus jongkok. Naik dikit. 😅

Minimal ada perasaan bersalah saat membuang sampah sembarangan. Ada juga sedikit rasa ndak enak saat melihat tempat sampah di rumah penuh dengan sampah plastik, entah dari kemasan makanan, perlengkapan rumah tangga, maupun kantongan kresek. Belum lagi kalau ketambahan habis belanja onlen yang bungkusannya berupa plastik berlipat ganda. Lha njur kudu piye...

Makanya saya senang-senang saja saat anak saya ditunjuk sekolah mewakili untuk lomba fashion show baju adat dari sampah daur ulang di tingkat Kabupaten Luwu Timur. Kira-kira butuh waktu sebulan, saya menghabiskan puluhan lembar kemasan plastik dari beras, deterjen, snack dsb. Juga sedotan susu  UHT yang diminum anak-anak di rumah, kardus snack, bubblewrap, tutup botol air kemasan dan lain-lain. Menyesuaikan dengan tema dan tujuan lomba yang digaungkan, saya mencoba memanfaatkan sampah rumah tangga semaksimal mungkin dalam komposisinya. Tanpa pewarnaan, tanpa cat. Warnanya adalah warna asli dari sampah.

Sesuai dengan temanya yaitu baju adat, saya mencari referensi ke sana kemari tentang baju adat. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat baju adat Minang semacam ini yang biasa disebut baju Bundo Kanduang. Nyari referensinya ya tinggal dudul hape. Wong saya bukan orang Minang. Saya orang Jawa, suami orang Sunda. Hehehe. Serta tidak mudah melatih anak yang bawaannya rada tomboy untuk membawakan baju ini di stage. Apapun itu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. 

Terima kasih untuk semua pihak yang sudah membantu dan mensupport, mulai dari ide, bahan, dan pembuatan. Terima kasih khususnya pada pihak sekolah SD YPS Lawewu yang sudah memberi kesempatan dan bimbingan buat anak kami. Mohon maaf belum bisa memberikan hasil juara. ☺🙏

Kita adalah penghasil sampah terbesar di planet ini. Mari kita tumbuhkan rasa peduli, mulai dari hal kecil, dimulai dari diri sendiri, ditanamkan di keluarga dan anak-anak kita. Demi lingkungan dan kehidupan yang bersih dan baik.

Sorowako, 10 April 2019