Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 September 2015
Ah, Di Situ Kadang Saya Merasa Dikeplak
Pagi ini membaca lagi buku "Ayah Bundaku Terapisku" yang ditulis Bunda Erina. Saya sudah lama punya, tepatnya dikasih, lebih tepatnya lagi gretongan, langsung dari penulisnya. Kok bisa, Mak? Lha yo bisaaa... Cerita nya sih panjang, kalau mau diringkaskan dalam beberapa paragraf status pesbuk sebenarnya kurang. Tapi okelah...
Jadi pas sebelum dan setelah saya lulus kuliah, saya tinggal di rumah Bu Erina ini. Kurang lebih dua tahun. Yo jelas gratisan.. *ealaah mak, kawit biyen jebule senenganmu gratisan
Ya sudah kayak keluarga sendiri, mudah-mudahan Allah membalas kebaikan keluarga ini dengan kebaikan yang berlipat ganda. Amiin..
Ohya, kan sudah lama saya nggak sowan ke rumah beliau di mBogor. Waktu anak kedua saya usia enam bulan waktu itu tahun 2009. Nah bulan Mei tahun ini, saat kami berkesempatan mengunjungi kota mBogor, saya pun silaturahim ke rumah beliau. Gitu, trus saya dikasih buku ini.
Buku ini tentang hypnoparenting, memberikan sugesti-sugesti positif dalam mengasuh dan mendidik anak. Buku ini disusun berdasarkan kisah nyata dari para orang tua dan anak-anak yang datang berkonsultasi di tempat praktik.
Membaca buku ini paragraf per paragraf serasa saya dikeplak berkali-kali. Membaca curhatan anak-anak yang merasa selalu dimarahi orang tuanya. Curhatan anak yang merasa tidak dihargai, yang merasa kesepian, dan lain-lain. Juga curhatan orang tua yang merasa anaknya susah diatur, suka melawan, dan lain-lain. Saya bayangkan seandainya anak-anak kami yang berkonsultasi. Akankah terucap curhatan galau tentang perilaku kami sebagai orangtuanya...ataukah luapan rasa bangga dan penuh cinta pada kami? Ah, di situlah kadang saya merasa dikeplak.
Tapi bagusnya setelah perasaan saya yang merasa-dikeplak itu, ada tulisan-tulisan dukungan dan sugesti untuk anak maupun orang tua. Contohnya gini :
"Berikan selalu dukungan meskipun hanya berupa kata-kata positif dan sedikit sentuhan fisik pada anak Anda."
"Terima apa adanya. Cara terbaik orang tua untuk membuat anak merasa diakui keberadaannya, disayangi, dan dicintai."
"Buat komitmen. Merupakan salah satu cara terbaik untuk membangun rasa tanggung jawab kepada anak."
"Mulai sekarang, pagi ini, dan seterusnya saya rasakan kasih sayang yang melimpah pada diri saya untuk selalu saya curahkan pada anak-anak saya setiap saat. Saya semakin bisa memberikan perhatian pada hal-hal positif yang anak-anak saya lakukan. Dan mudah untuk memberikan pujian ketika mereka melakukan kebaikan dan membimbing mereka ketika mereka melakukan hal yang negatif. Saya mudah menerima kebaikan sekecil apapun dan menghargai usaha sekecil apapun dari semua yang anak-anak saya lakukan. Dan saya bisa merasakan kebahagiaan lebih banyak karena anak-anak saya juga semakin bahagia dan bangga memiliki orang tua seperti saya."
Itulah, pada intinya sebagai orang tua memang kami harus belajar lagi..dan lagi.. demi membantu diri kami sendiri mengasuh dan mendidik anak-anak lebih baik lagi.
Kamis, 20 Agustus 2015
Mengapresiasi Anak
Pindahan sekolah mungkin saja bagi sebagian anak terasa enjoy aja. Bagi sebagian bisa jadi terasa berat dan dilematis. Anak saya pernah mengalaminya. Bahkan kami membujuknya berbulan-bulan supaya dia tak patah semangat. Nasib perantau, Nak, memang seringkali dihadapkan yang seperti ini. Meninggalkan rumah, kerabat, dan kawan lama untuk bertemu banyak hal baru. Meski pun kenangan itu akan terus ada.
Awalnya ketika pindah ke Sorowako ini, saya khawatir dengan kemampuannya menyesuaikan diri, terutama dengan sistem pembelajaran sekolah dan kawan-kawan barunya. Di sekolah lama belum ada Bahasa Inggris untuk kelas 2, sedangkan di sini dari kelas 1 mereka dapatkan. Nah, satu peluang untuk merasa tidak pede.
Seringkali dia bercerita tentang teman-temannya. Tentang rumahnya, tentang keunikannya, tentang mobilnya juga. Hahaha dasar bocah. Sampe dia sebutkan detil si Anu rumahnya di anu nomer sekian mobilnya merk ini warna hitam. Atau si Anu ntar tanggal sekian mau liburan ke Paris. Si Anu yang lain bawa oleh-oleh dari Singapura.
Hihihi...bagusnya sih, dia jadi kenal jenis mobil beserta tipenya -punya teman-temannya-. Dan dia juga menanyakan berbagai tempat wisata di luar negeri yang mungkin sempat dikunjungi temannya. Bahkan penasaran dengan perbedaan waktunya. Eh tiba-tiba dia jadi rajin kembali membuka-buka Encarta Kids.
Tapi feeling emak-emak lebih sensi yak! Saya khawatir dia minder. Di sekolah lamanya di kampung yang notabene kondisinya jauh berbeda, rasa pedenya aja masih kurang. Entah kenapa. Bagaimana di sini?
Ternyata tidak, justru saya amati di sekolah baru rasa percaya dirinya semakin tumbuh. Gurunya pun mengapresiasi. Sering maju ke depan tanpa malu-malu. Semangat berlomba-lomba menjawab pertanyaan guru. Bisa menjadi tutor sebaya. Mau menyanyi di depan kelas. Nilai kepribadian yang tertera di rapor 'A' semua. Rekor baru neh, sebelumnya kebanyakan 'B', apalagi waktu jaman TK dulu. Hahahaa eike sih yakin tuh anak nggak berubah kepribadian secara singkat. Hanya masalah penilaian yang sedikit berbeda.
Nah, mungkin begini...
Berbeda dengan orang dewasa yang kebanyakan rasa percaya diri karena ditunjang faktor penampilan, gadget, dandanan dll, anak-anak tidak seperti itu. Berangkat sekolah dengan gigi ompong sekaligus tiga, pede aja tuh. Hahaha. Yang penting bagi anak adalah perasaan diterima segala kelebihan dan kekurangannya, diapresiasi, diberikan kesempatan, juga lingkungan/sekolah yang mendukung pengembangan diri anak (nggak hanya masalah akademik).
Saya nggak pusing, resah, atau gelisah ketika mendapati tidak ada ranking tertera di rapor. Lha sekolahnya nggak pake ranking-rankingan. Kalo saya dulu setiap kali terima rapor di SD rasanya udah nggak ada deg-degan, surprised atau menjerit bahagia. Biasa aja, mendapati angka 1 tertera jadi ranking di rapor. Enam tahun berturut-turut di sebuah SD Inpres di kampung yang terletak di suatu kota kecil. Yang paling saya ingat justru ketika Kepala Sekolah mengapresiasi prestasi akademik saya *halaaah* dengan memberikan hadiah khusus, seperangkat buku-buku pelajaran lengkap kap kapppp.
Anak saya, meskipun tak ada ranking tapi saya bersyukur banyak kemajuan baik akademik maupun yang lainnya. Matematika nya 97, IPS 98, Bahasa Inggris 95. Yah, memang sih itu hanya sekedar angka. Tapi membuat emaknya percaya diri. Lhooo kok?!
Lha iya, berarti hal-hal yang saya khawatirkan tidak terjadi. Hal-hal yang saya pikir tambah menurunkan rasa percaya dirinya, ternyata tidak. Malahan prestasinya meningkat. Memang yang saya harapkan adalah sedikit demi sedikit dia termotivasi dengan dirinya sendiri, bukan karena orang lain.
Berkompetisi bukan untuk mengalahkan orang lain, tapi menaklukkan dirinya sendiri.
Dulu saya terkadang mendengar komentar orang yang kurang mengenakkan.
"Bapaknya dulu juga pinter sih waktu sekolah."
"Cucunya kepala sekolah siiihh.."
Aduh komentar yang seperti itu kan kurang mengapresiasi usaha anak. Jadi tambah nggak pede deeeh. Beda kan kalo dibilang begini, "Waaah, pinterrr...kalau rajin sekolah, nggak malu-malu kalau disuruh maju ke depan nilainya bagus."
Hehehhe begitu kali ya?
Oya satu hal lagi. Siapa punya anak/balita laki-laki? Hihihi sama nggak sih kayak yang saya pernah rasakan? Anak seringkali dicap 'nakal'. Mungkin hanya gara-gara tidak bisa diam di kelas, sedikit mengganggu temannya, atau berantem adu jotos dan tendangan?
Nah itulah, di sekolahnya yang sekarang rupanya sedikit berbeda. Anak-anak yang begitu, selagi dalam kategori wajar yaaaa dianggap lumrah saja. Kalau pun memang dinilai bermasalah, orang tua akan dipanggil dan jika perlu disediakan psikiater atau terapis. Begitu dulu yang dibilang pihak sekolah.
Anak saya pernah cerita bahwa ada temannya yang beberapa kali marah/nangis bahkan lari keluar kelas saat belajar. Pemicunya kadang karena nggak bisa mengerjakan soal, atau mau belajar Bahasa Inggris saat jam Matematika. Apakah anak tsb langsung dimarahi/dihukum sama Bu Guru? Tidak, kata anak saya. Biasanya ada salah satu anak disuruh memanggilkan guru khusus (terapis) yang standby di dekat ruangan guru. Nanti anak itu akan dibujuk biar nggak 'marah' lagi. Kalau masih nggak mau, biasanya ibunya ditelpon dan diminta menjemput ke sekolah.
Hikks, biasanya setiap kali anak saya cerita tentang temannya yang itu, saya sangat bersyukur atas anak-anak saya. Maafkan emakmu, Nak, yang seringkali nggak sabaran menghadapi tingkah kalian.
Well, dunia ini sangat luas dan beraneka ragam. Banyak hal bersifat relatif. Sehingga untuk menilai dan mengapresiasi sesuatu pun butuh banyak kriteria dan perbandingan. Tidak adil kita menghakimi seorang anak dengan cap 'nakal' hanya dari kejadian sesaat, misalnya ngamuk di pusat perbelanjaan, memukul temannya gara-gara berebut mainan, membela diri dengan balas menendang dll. Atau dibilang 'bodoh' hanya karena nilai Matematikanya jauh lebih kecil dari rata-rata nilai temannya. Hihihi sok bijak deh eike...
Setiap anak adalah istimewa, pun begitu juga dengan emaknya. Iya toh?
*Sorowako, Juli 2014
Awalnya ketika pindah ke Sorowako ini, saya khawatir dengan kemampuannya menyesuaikan diri, terutama dengan sistem pembelajaran sekolah dan kawan-kawan barunya. Di sekolah lama belum ada Bahasa Inggris untuk kelas 2, sedangkan di sini dari kelas 1 mereka dapatkan. Nah, satu peluang untuk merasa tidak pede.
Seringkali dia bercerita tentang teman-temannya. Tentang rumahnya, tentang keunikannya, tentang mobilnya juga. Hahaha dasar bocah. Sampe dia sebutkan detil si Anu rumahnya di anu nomer sekian mobilnya merk ini warna hitam. Atau si Anu ntar tanggal sekian mau liburan ke Paris. Si Anu yang lain bawa oleh-oleh dari Singapura.
Hihihi...bagusnya sih, dia jadi kenal jenis mobil beserta tipenya -punya teman-temannya-. Dan dia juga menanyakan berbagai tempat wisata di luar negeri yang mungkin sempat dikunjungi temannya. Bahkan penasaran dengan perbedaan waktunya. Eh tiba-tiba dia jadi rajin kembali membuka-buka Encarta Kids.
Tapi feeling emak-emak lebih sensi yak! Saya khawatir dia minder. Di sekolah lamanya di kampung yang notabene kondisinya jauh berbeda, rasa pedenya aja masih kurang. Entah kenapa. Bagaimana di sini?
Ternyata tidak, justru saya amati di sekolah baru rasa percaya dirinya semakin tumbuh. Gurunya pun mengapresiasi. Sering maju ke depan tanpa malu-malu. Semangat berlomba-lomba menjawab pertanyaan guru. Bisa menjadi tutor sebaya. Mau menyanyi di depan kelas. Nilai kepribadian yang tertera di rapor 'A' semua. Rekor baru neh, sebelumnya kebanyakan 'B', apalagi waktu jaman TK dulu. Hahahaa eike sih yakin tuh anak nggak berubah kepribadian secara singkat. Hanya masalah penilaian yang sedikit berbeda.
Nah, mungkin begini...
Berbeda dengan orang dewasa yang kebanyakan rasa percaya diri karena ditunjang faktor penampilan, gadget, dandanan dll, anak-anak tidak seperti itu. Berangkat sekolah dengan gigi ompong sekaligus tiga, pede aja tuh. Hahaha. Yang penting bagi anak adalah perasaan diterima segala kelebihan dan kekurangannya, diapresiasi, diberikan kesempatan, juga lingkungan/sekolah yang mendukung pengembangan diri anak (nggak hanya masalah akademik).
Saya nggak pusing, resah, atau gelisah ketika mendapati tidak ada ranking tertera di rapor. Lha sekolahnya nggak pake ranking-rankingan. Kalo saya dulu setiap kali terima rapor di SD rasanya udah nggak ada deg-degan, surprised atau menjerit bahagia. Biasa aja, mendapati angka 1 tertera jadi ranking di rapor. Enam tahun berturut-turut di sebuah SD Inpres di kampung yang terletak di suatu kota kecil. Yang paling saya ingat justru ketika Kepala Sekolah mengapresiasi prestasi akademik saya *halaaah* dengan memberikan hadiah khusus, seperangkat buku-buku pelajaran lengkap kap kapppp.
Anak saya, meskipun tak ada ranking tapi saya bersyukur banyak kemajuan baik akademik maupun yang lainnya. Matematika nya 97, IPS 98, Bahasa Inggris 95. Yah, memang sih itu hanya sekedar angka. Tapi membuat emaknya percaya diri. Lhooo kok?!
Lha iya, berarti hal-hal yang saya khawatirkan tidak terjadi. Hal-hal yang saya pikir tambah menurunkan rasa percaya dirinya, ternyata tidak. Malahan prestasinya meningkat. Memang yang saya harapkan adalah sedikit demi sedikit dia termotivasi dengan dirinya sendiri, bukan karena orang lain.
Berkompetisi bukan untuk mengalahkan orang lain, tapi menaklukkan dirinya sendiri.
Dulu saya terkadang mendengar komentar orang yang kurang mengenakkan.
"Bapaknya dulu juga pinter sih waktu sekolah."
"Cucunya kepala sekolah siiihh.."
Aduh komentar yang seperti itu kan kurang mengapresiasi usaha anak. Jadi tambah nggak pede deeeh. Beda kan kalo dibilang begini, "Waaah, pinterrr...kalau rajin sekolah, nggak malu-malu kalau disuruh maju ke depan nilainya bagus."
Hehehhe begitu kali ya?
Oya satu hal lagi. Siapa punya anak/balita laki-laki? Hihihi sama nggak sih kayak yang saya pernah rasakan? Anak seringkali dicap 'nakal'. Mungkin hanya gara-gara tidak bisa diam di kelas, sedikit mengganggu temannya, atau berantem adu jotos dan tendangan?
Nah itulah, di sekolahnya yang sekarang rupanya sedikit berbeda. Anak-anak yang begitu, selagi dalam kategori wajar yaaaa dianggap lumrah saja. Kalau pun memang dinilai bermasalah, orang tua akan dipanggil dan jika perlu disediakan psikiater atau terapis. Begitu dulu yang dibilang pihak sekolah.
Anak saya pernah cerita bahwa ada temannya yang beberapa kali marah/nangis bahkan lari keluar kelas saat belajar. Pemicunya kadang karena nggak bisa mengerjakan soal, atau mau belajar Bahasa Inggris saat jam Matematika. Apakah anak tsb langsung dimarahi/dihukum sama Bu Guru? Tidak, kata anak saya. Biasanya ada salah satu anak disuruh memanggilkan guru khusus (terapis) yang standby di dekat ruangan guru. Nanti anak itu akan dibujuk biar nggak 'marah' lagi. Kalau masih nggak mau, biasanya ibunya ditelpon dan diminta menjemput ke sekolah.
Hikks, biasanya setiap kali anak saya cerita tentang temannya yang itu, saya sangat bersyukur atas anak-anak saya. Maafkan emakmu, Nak, yang seringkali nggak sabaran menghadapi tingkah kalian.
Well, dunia ini sangat luas dan beraneka ragam. Banyak hal bersifat relatif. Sehingga untuk menilai dan mengapresiasi sesuatu pun butuh banyak kriteria dan perbandingan. Tidak adil kita menghakimi seorang anak dengan cap 'nakal' hanya dari kejadian sesaat, misalnya ngamuk di pusat perbelanjaan, memukul temannya gara-gara berebut mainan, membela diri dengan balas menendang dll. Atau dibilang 'bodoh' hanya karena nilai Matematikanya jauh lebih kecil dari rata-rata nilai temannya. Hihihi sok bijak deh eike...
Setiap anak adalah istimewa, pun begitu juga dengan emaknya. Iya toh?
*Sorowako, Juli 2014
Jumat, 14 Agustus 2015
Sepasang Mata Bulet
Sepasang mata bulet..telah menawanku.
Tatapannya sanggup menguatkan lengan dan kakiku untuk berjam-jam menggendongnya.
Tak perlu barbel atau latihan aerobik, namun lenganku terasa lebih kekar, kuat, dan stabil. *halaaahh*
Seulas senyum lucu membuatku tidak malu menyanyikannya lagu-lagu
dengan berbagai nada dan syair yg entah gubahan siapa,
tentu saja dengan kemampuan vokal sekedarnya.
Ngomong sendiri, kujawab sendiri.
Bahkan seringkali kutanya dia, "Ini namanya siapa?"
"Anak siapa ini?"
Bukan amnesia atau pura-pura lupa.
Tapi itulah cinta.
C-I-N-T-A
Sepasang pipi gembil membuatku jatuh hati berkali-kali
hingga terbiasa seringkali hanya mandi sekali dalam sehari.
*November, 2014
Romantisme
Anak wedok bawa-bawa henna pasta. Niatnya mau minta tolong emaknya untuk ngecat kuku kakinya. Tanggung, saya sebenernya barusan selesai makan tapi sayang untuk melewatkan sesi ngrokoti tulang ayam.
"Sama papah aja, tuh!"
"Mana bisa?" sahutnya.
"Bisaaaaa...." jawab saya untuk meyakinkan.
Setengah hati dia meminta tolong papanya. Baru nyodorin henna udah disodori pertanyaan, "Gimana cara pakenya?"
"Olesin aja, yang rata." jawab saya.
Baru satu kuku selesai, papanya komplen.
"Ih geuleuh siga tai kotok."
Hahahahaha untung saya nggak keselek.
Iiihhh...papah nggak gaul deeehh.
Akhirnya demi anak wedok, dilanjutkan sesi ngecat kuku kaki sampe selesai. Dan anak wedok tersenyum cerah.
Romantis.
Anak yang Terampil
Anak-anak di rumah suka sekali melipat. Bukan melipat baju seh..hahaha senangnya kalau mereka hobi melipat baju. Tapi melipat kertas atau origami. Melipat bentuk apa saja. Pun dari kertas apa saja. Kertas origami, koran, kertas bekas dll. Saya kadang sampai puyeng melihat kertas berhamburan di mana-mana.
Tapi segala sesuatu bisa dibikinkan filosofinya. Seperti...di balik rumah yang berantakan ada anak-anak yang sehat, aktif, dan kreatif. Perkara emaknya yang rada males dengan standar kerapihan rendah, itu bisa diabaikan. Wkwkwkwkk
Ketrampilan menghamburkan..eh melipat ini tentunya kepake banget saat mereka terjun di dunia kerja
Eh, maksudnya terjun bersosialisasi dengan teman-temannya.
Meskipun kurang pede dengan kemampuan membacanya, anak wedok pede dengan kemampuan nangkap belalang dan undur-undur. Banyak hal lain yang bisa menjadi kesempatannya untuk unjuk diri. Seperti berani mengajukan diri membuat salah satu kreasi bentuk origami. Memang sih, awalnya malu-malu.. Maklumlah, ditakdirkan memiliki emak pemalu ya begitu. Hahaha..abaikan.
Anak Baru dan Kantin Sekolah
Sudah bukan rahasia lagi, jikalau kantin sekolah menyediakan makanan/jajanan yang beragam dengan harga terjangkau. Baca : murah. Banyak pilihan harga sesuai kantong.
Sudah seminggu ini, anak wedok yang kelas satu beli jajannya kalau nggak krupuk ya bolu kukus. Padahal menurut cerita kakaknya yang lebih senior, di kantin itu banyak sekali yang bisa dibeli. Yang ini harganya sekian. Yang itu harganya sekian.
Apa daya, Anin, anak wedok saya itu, masih bingung dengan konsep uang kembalian, uang pas, kurs rupiah, inflasi, pergerakan pasar modal, dan iklim investasi. *walah, iki ngomongke cah kelas siji esde, Mak!
Nah, barusan ketika ada pertemuan orang tua dengan pihak sekolah, maka saya pun datang dengan membawa misi khusus. Nggak lupa juga sih, membawa hape, diapers, tisu basah, celana bayi, mainan bayi, dan seorang bayi itu sendiri. *hahaha,tipikal emak lebay.
Pas selesai acara, dan pas pula anak lanang pulang. Jadilah kami bertiga eh berempat menyambangi kantin, yang Alhamdulillah lagi sepi. Nggak ramai anak-sekolah. Maklum bertepatan dengan jam sholat dhuhur.
Kantinnya luas. Yang jualan banyak. Kursi dan meja untuk makan juga banyak. Mirip food court gitu. Ada batas tempat mengantri di tiap lapak. Wis miriplah dengan bank. Hehehe.
Berbekal semangat mengenalkan wawasan perkantinan dan nilai tukar uang terhadap setiap entitas jajanan, saya traktir mereka.
*ini sih kewajiban, Mak. Bukan sekedar traktir mentraktir.
Walhasil, jadilah kami membawa pulang dua porsi es krim goreng, dua bungkus bakso, dan satu kantong berisi pisang goreng keju plus nugget.
Sayangnya ndak ada potonya. Lha gimana, kalo saya keluarkan hape trus poto-poto malah ketauan banget kalo mau dibikin status pesbuk. Saya ndak siap di-add friend. Lagi pula saya liat ada beberapa guru lagi makan di situ. Nggak malu sih sebenarnya, tapi sungkan.
*Sorowako, Agustus 2015
Dilema Hobi dan Beres-beres
Hobi baru adek bayi adalah membongkar, alias ongkrah-ongkrah. Hobi yang kreatif dan tidak memakan biaya, selain kesabaran dan kekekaran emaknya. Tenaga boooo...capeknya mberesin itu loohh. Lha rumangsamu, beres-beres itu nggak pake tenaga?
Semua yang bisa dijangkau dia bongkar dengan gembira. Keranjang mainan, laci buku, laci dapur, tas, dompet dan lain-lain. Dan syukurlah, sampai saat ini dia belum berminat mbongkar onderdil sepeda dan alat elektronik.
Ya jelas berantakan. Mau dilarang kok kasihan. Masa anak mau menyalurkan kreativitas, emaknya menghalangi. Mau diceramahi tentang bongkar-pasang yang seharusnya jadi satu kesatuan, tapi kok ya masih bayi. Akhirnya saya cuman mengamati, menjaga, dan membimbingnya dalam kegiatan bongkar membongkar. Jangan sampai ada buku-buku kakaknya yang dirobek-robek. Jangan sampai dia ngemil krayon. Jangan sampai dia ngemut spidol. Safety first lah.
Kadang lelah, kadang pengen disambi memasak atau beresin rumah. Apa daya, menjaga bayi yang lagi hobi mbongkar itu berarti saya harus berada di sampingnya. Memastikan dia main dengan aman terjaga. Menjaga ketika dia berdiri sambil berpegangan lalu berjalan entah mau ambil apa. Dan membuatnya nyaman.
Melihat ekspresinya yang khusyuk membongkar, kadang ngoceh dan merengek minta tolong hati siapa sih yang nggak luluh. Dan senyum polosnya itu...
Nak, berhubung kamu cantik emakmu rela kok beres-beresin yang kamu bongkar seharian...
*Sorowako, Agustus 2015
Jumat, 21 Februari 2014
Setiap Anak..Setiap Emak…Masing-masing Punya Cerita
Kemaren sore, anak wedok (4,5 tahun) marah. Mungkin bisa
disebut tantrum. Hanya gara-gara saya tegur waktu dia mainin saklar lampu.
Nangis sambil lari, nggak mau dipanggil atau dipegang. Raut mukanya bener-bener
beda deh sama biasanya. Ampe agak susah kayaknya dia bernapas.
Reaksi saya awalnya agak membiarkan tapi nggak lama kemudian
saya peluk, meskipun dia meronta dan menghindar. Tetap saya peluk sambil
membujuknya. Selang beberapa menit, dia mulai tenang. Dan setelah itu kami pun
mengobrol tentang apa yang terjadi barusan.
Dalam hati saya senang berhasil melakukannya, tanpa
emosi..tanpa energi terbuang sia-sia. Tapi, ada sedikit sesal dan ngilu ketika
saya ingat waktu beberapa tahun lalu.
Ketika seumuran segitu, kakaknya lebih-lebih gayanya ketika
tantrum. Lebih heboh, lebih sering, dan lebih menguras kesabaran. Ah, tentu
masing-masing anak istimewa… Dan sayangnya saya dulu kurang ilmu. Kesabaran
menghadapi anak juga masih jadi barang langka,
yah meskipun sekarang juga masih laaahhh hehehe. Lagian siapa sih
emak-emak yang nggak pernah ngomel, marah, ke anaknya. Mungkin pintar-pintarnya
saja kita mengendalikan.
Seringkali ketika melihat foto-foto jaman anak pertama saya
masih umur 3-4 tahunan, seringkali terbersit ‘maaf’ dalam hati. Nak, emakmu
dulu kok belum banyak belajar ya? Kok gampang banget stress? Ah, kalo bisa
diulang masa-masa itu …
Tapi, dengan anak yang ‘aktif’ dan tingkahnya yang
seringkali membuat kita jungkir balik (sedikit lebay :p)…saya belajar gimana
menerapkan disiplin. Saya belajar tentang kesabaran (nggak Cuma teorinya). Gimana
mengendalikan emosinya (dan emosi saya tentunya). Gimana belajar mendidik yang
baik dan benar. Gimana berkomunikasi dengan suami mengenai masalah menghadapi
anak-anak.
Dan, satu hal penting yang jadi pelajaran besar buat saya…
“Jangan sekali-kali menggunakan persepsi orang lain sebagai
pijakan mendidik anak kita. Dan jangan buru-buru terpengaruh penilaian orang lain ketika
menasehati (memarahi) anak kita.”
Kita sebagai orang tua yang paling mengenal anak, bukan orang
lain. Kita yang setiap hari melihatnya dari bangun tidur hingga tidur lagi,
bukan orang lain. Kita yang menggendongnya, kita yang merawatnya, dan kita yang
menyayanginya.
Ketika anak (balita) tantrum lalu mengucapkan kata-kata
kasar yang mungkin dinilai nggak pantas…ternyata itu hanya pengaruh sesaat
ketika bergaul dengan teman-temannya. Ketika dia melemparkan sesuatu, mungkin
dia hanya ingin meluapkan emosinya. Ketika dia menendang, mungkin dia pikir
akan membuat kondisi lebih baik.
Buat saya pribadi, lingkungan yang baik sangat mendukung
anak untuk bersosalisasi, dan bersikap baik. Nah, buat emak-emak juga begitu.
Mencari lingkungan yang baik dan mendukung, akan membantu kita menjadi emak
yang lebih baik lagi. Bertukar pengalaman, sharing info yang bermanfaat, saling
belajar, latihan sabar…
Nggak oke jika kita tinggal di sebuah tempat, lalu ketika anak-anak
balita kita berbuat sesuatu dengan tingkahnya dan selanjutnya kita jadi hot
topic di mana-mana. Sebagai emak, kita pasti tersinggung ketika balita kita
nyenggol temannya(entah sengaja atau tidak) lalu kita didiemin dalam jangka
waktu unpredictable, dan cap “nakal” distempelkan ke anak balita kita. Nggak
lucu jika balita mukul temannya lalu emaknya dilabrak di tukang sayur. Nggak banget deh…
Hehe kok saya jadi curcol begini.
Move on…move on…meskipun belum bisa move on secara fisik,
setidaknya mengubah pola pikir dan kebiasaan yang kurang pas akan sangat
bermanfaat. Meskipun tinggal di sekeliling orang-orang yang ‘kurang paham’,
setidaknya kita bisa berdiri kokoh di atas prinsip dan tegar di atas batu
karang *eaaaaa
Dan, bersyukurlah ketika lingkungan keluarga dan tetangga
sangat kondusif. Bersyukurlah ketika dianugerahi anak-anak yang tidak sulit
karakternya (meskipun sekali lagi saya yakin, setiap anak adalah istimewa).
Bersyukurlah ketika semakin dimudahkan dalam mendidik anak.
Bersyukurlah atas semua yang kita dapatkan....
Pernah saya mengobrol dengan tetangga baru saya, yang punya anak tiga, laki-laki semua, dan sekarang masih balita semua. (Maaf ya, mbak..takcomot dikit obrolan kita dan modifikasi seperlunya :P)
Iseng saya nanya, “Mbak pernah nggak bermasalah dengan
tetangga gara-gara anak?”
Jawabannya tidak saya duga, “Pernah.” Sambil menekankan
berkali-kali.
Jadilah kami mengobrol, sharing pengalaman dan bertukar
cerita tentang menghadapi tingkah anak balita. Lalu ketika dia memperhatikan
anak saya yang laki-laki (7,5 tahun)..dia komentar, “Anaknya kok diem mbak,
bisa momong adiknya.”
Saya hanya tertawa, “Ya gitu deh, ada kalanya rukun, ada
kalanya berantem, ada kalanya ribut, ada kalanya anteng…di mana-mana anak kecil
kan begitu. Dulu jaman umur 3 tahunan, saya pernah gendong dia lagi tantrum ketika main sama teman-temannya
di depan rumah. Beratnya 15 kg, padahal saya baru aja 3 hari habis melahirkan.
Dan butuh waktu lama menenangkan. Adiknya saya geletakin aja di kasur. Saya
ngliatin dia tantrum di ruang tengah. Suami lagi kerja. Gak ada asisten pula.”
“Whattt?”
Hehehe, setiap anak…setiap emak punya cerita kan?
*buat anak-anakku…terima
kasih telah mengajari bubuh banyak hal. We’re proud of you and we love you…
Rabu, 19 Februari 2014
Balada Emak Galau Masalah Jajanan Anak (2)
Nah, yang bikin agak mumet sebenernya kebiasaan jajan si
bungsu (dulu). Waktu di PAUD dan TK sebelumnya, nggak ada aturan pasti tentang
uang saku dan jajanan. Saya setiap hari melihat anak-anak membawa beberapa
lembar uang ribuan, beli jajan segala macam. Agak nggak tega ketika anak saya
nggak saya pegangin uang, hanya saya siapkan di tasnya beberapa jajanan yang
sudah saya pilih dan belikan.
Apalagi ada beberapa emak-emak yang komentar, “Kok nggak
jajan?”
“Kok bisa ya, nggak dikasih uang jajan.”
Kadang saya jawab seperlunya, kadang saya jelaskan, dan
kadang saya hanya tanggapi dengan senyuman.
Mereka nggak tahu, saya juga mumet ketika anak saya ikut menunggu di
sekolah saat saya ngajar, duh repotnya menahan keinginannya untuk jajan
ini itu. Mengatasi segala aksi rengekannya.
Mungkin setiap keluarga memiliki cara berbeda-beda dalam mendidik anak. Kalau saya sih karena lahir dan besar di keluarga sederhana dan ibu yang mengajari kami –anak-anaknya- untuk bisa mengelola uang [saku] dengan baik. Jajanan disediakan di rumah. Dan jajanan jaman dulu nggak seheboh jaman sekarang.
Mungkin setiap keluarga memiliki cara berbeda-beda dalam mendidik anak. Kalau saya sih karena lahir dan besar di keluarga sederhana dan ibu yang mengajari kami –anak-anaknya- untuk bisa mengelola uang [saku] dengan baik. Jajanan disediakan di rumah. Dan jajanan jaman dulu nggak seheboh jaman sekarang.
Saya masih ingat, jaman SD dulu,
uang saku dipegang oleh kakak saya, sebagai komandan dan pilot project
adik-adiknya. Hahahaha. Tiap minggu dikasih uang sama ibu, lalu setiap hari
dibagikan ke adik-adiknya. Saya lupa nominalnya, tapi saya ingat tiap hari
dapat jatah 50 rupiah.
Waktu SMP, saya diberi jatah uang saku bulanan sendiri. Tiap
abis gajian, kami berkumpul untuk pambagian jatah hihihi. Kisaran sekitar 14
ribu (kalo ndak salah ingat). Itu sudah termasuk uang jajan, uang buku/LKS,
uang SPP dan iuran-iuran kelas. Akhir bulan berasa bahagia banget kalo ada
sisa, berarti saya bisa jajan yang agak mahal atau ditabung di celengan ayam.
Waktu SMA juga demikian.
Saya coba adopsi metode ibu saya ke anak-anak saya.
Hihihi..tentu dengan beberapa perubahan. Lagian, uang 50 rupiah masih bisa
dipakai kah? :p
Balik lagi ya, mbahas jajan di sekolah TK. Sekarang kegalauan
saya terobati, karena di TK baru, yaitu TK YPS Lawewu di Sorowako (boleh nyebut
merk ya?) nggak ada yang jualan jajanan. Anak TK pergi sekolah hanya memakai
seragam dan kalung tanda pengenal, tanpa tas/buku/pensil apalagi uang saku.
Setiap hari ada makanan ringan yang dikasihkan, sesuai
jadwal menu. Setiap bulan jadwal menu diberikan ke orang tua. Di lembaran
tertulis tanda tangan Kepala Sekolah TK, Bagian Gizi RS Vale, dan Koordinator
Taman Gizi.
Tertulis untuk setiap hari sekolah,awal hingga akhir bulan.
Ada pastel, martabak, barongko, sosis goreng, panada isi ikan/danging, bakwan
sayur, terang bulan, kolak, nasi kuning muffin, arem-arem, donat, lemper,
brownis, pie buah, susu, blackforest dll. Bervariasi tiap harinya.
Hanya dikenakan biaya Rp 60.000 per bulan.
Murah dan sehat bukan?
Balada Emak Galau Masalah Jajanan Anak (1)
Percaya nggak kalau lingkungan berpengaruh terhadap
kebiasaan anak? Kalau saya sih percaya, karena anak kan gampang meniru.
Keluarga, sekolah dan masayarakat termasuk lingkungan kan ya? Nah, saya mau
sharing nih tentang masalah jajan dan uang saku, terutama buat anak-anak
sekolah. Ingat, saya bukan pakarnya…saya bukan ahlinya…saya masih harus banyak
belajar. Masih ingat kan, saya ‘hanya’ pernah ngicipin rasanya jadi guru
honorer.
Jadi kita sekarang mau ngomongin gaji guru honorer gitu? Ya
nggak lah, percayalah pemirsa…jikalau bukan karena passion mengajar,
kebahagiaan berbagi ilmu, tanggung jawab mendidik anak…sepertinya menjadi guru
honorer itu berat rasanya. Gajinya nggak seberapa..eh nggak tahu ding, mungkin
di belahan bumi yang saya tidak ketahui ternyata ada guru-guru honorer digaji
menyamai guru PNS bersertifikasi.
Tadi ngomongin apa sih, kan mau ngomongin jajan. Jajan sembarangan.
See? Banyak jajanan tidak sehat beredar di sekolah. Jajanan pakai pewarna sembarangan. Jajanan yang tidak tertutup sehingga terkontaminasi debu. Jajanan yang penjualnya merokok dan nggak cuci tangan. Jajanan yang dirubung lalat. Jajanan yang penyimpanannya salah.
Yah, kalo anak sudah terbiasa dan orang tua sering mengingatkan
mungkin sedikit banyak bisa meminimalisir. Apalagi kalo ditunjang kebijakan
pihak sekolah yang berwenang. Pasti lebih jos gandoss…
Waktu anak sulung saya masih di TK, Alhamdulillah di TK nya
ada aturan tidak boleh membawa uang, dan setiap hari harus membawa bekal
makanan dan minuman. Nggak ada orang buka lapak jajanan di area sekolah. Buat
saya, yang sering galau masalah beginian, tentu bersyukur sekali. Nggak
was-was..eh, hari ini dia jajan apa ya? Tau nggak kalo yang dirubung lalat itu
kotor? Tau nggak makanan yang sudah terkontaminasi debu? Tau nggak makanan
kadaluarsa? Tau nggak makanan yang pake pewarna berlebihan? Lebih tenang, kan
dia nggak jajan, nggak bawa uang, makan bekal juga bareng-bareng diawasi
gurunya.
Tapi ketika dia masuk SD, hampir semua temannya bawa
uang saku buat jajan, dan banyak orang jualan di sekitar sekolah…hmmmm mumet
saya. Nggak mau bawa bekal makanan, karena yang lain juga nggak bawa. Meskipun
dia memang tipe pemilih kalo jajan, tetap saja kalo melihat setiap hari, masa
nggak kepengen ikutan sih? Dari yang tadinya nggak ngerti ngitung kembalian,
jadi ikut-ikutan jajan kayak temannya. Jadi saya siasati saja, karena nggak
mungkin bagi saya melarang total untuk jajan. Entahlah, ini hanya kebijakan (atau
kelonggaran) kami saja. Uang saku antara 2000-3000 rupiah per hari saya
berikan. Setiap pagi, saya ingatkan untuk tidak jajan sembarangan. Saya kasih
beberapa contoh dan kriteria :
1.
yang tidak boleh dibeli sama sekali.
2.
Yang boleh dibeli tapi seminggu sekali.
3.
Yang boleh dibeli tapi nggak tiap hari (dua atau
tiga hari sekali)
4.
Yang boleh dibeli tiap hari
Bawel? Iya lah saya emang emak bawel hihihi ya tapi mau
gimana lagi, demi kebaikan anak juga. Kadang-kadang saya ajarin cara membaca
Expired Date yang tertera di kemasan, komposisi makanan, zat aditif yang
berbahaya (pewarna kain, dll). Hehehe nggak taulah, mungkin juga sampe sekarang
dia belum ngerti betul.. Tapi
sedikit-sedikit pasti diingat kan?
Lalu saya punya trik baru karena waktu itu dia lagi
seneng-senengnya beli baju bola yang harga 20-30 ribuan. Saya bilang kumpulkan
saja uang sakunya kalo dah cukup, nanti dibelikan baju bola. Alhasil, dia pun
jadi mikir..enaknya dijajanin atau ditabungin buat beli baju bola? Hehehehe mudah-mudahan
sih dia nggak berpikir, duh emak pelit amat seh.. Tapi setiap 2 minggu dalam
rentang kurun waktu tertentu dia bisa dapatkan baju bola, kolor bola, dll.
Oya di sekolah, sewaktu ngajar di kelas, kadang-kadang saya
selipkan juga materi memilih makanan. Pernah saya suruh mereka bawa bungkus
jajanan, lalu masing-masing menulis komposisinya, cara baca ED, dll. Hehe saya
sempat shock (nggak pake pingsan) waktu mendapati kenyataan bahwa hari gini
masih ada sebagian orang di kampung yang menggunakan pemanis buatan (istilahnya
sodium) untuk menggoreng pisang, merebus ubi/jagung, bahkan lebih parah
ditambahin ke susu balita. Tetunya dengan takaran semaunya kan? Duhhh…emang
bener-bener nggak tahu atau gimana ya?
Di tempat baru, kegalauan saya tentang jajanan anak drastis berkurang.
Warung terdekat rumah kami sekitar 1 km. Hehe.. Dan di sekolah baru, sejak
mendaftar pertama kali saya nggak lupa nanyain masalah jajanan yang tersedia di
area sekolah. Hehehe bawel ya? Guru-gurunya pun menjawab, yang intinya begini,
“Anak-anak terbiasa membawa bekal dan memakannya di jam
istirahat pertama. Biasanya mereka jajan di istirahat kedua, di kantin sekolah.
Jajanan yang dijual nggak sembarangan.Uang saku cukup dua ribu.”
Alhamdulillah. Jadilah tiap hari si aa membawa bekal makan
dan minum ke sekolah. Pun bapaknya juga demikian. Tiap pagi emak sibuk
(halaaahh) di dapur buat ngisi dua kotak makan. Bukan menu yang mewah, tapi
makanan yang sehari-hari kami makan. Kadang nggak bawa nasi, hanya bakwan sayur
atau mie goreng. Aa sekarang jarang banget jajan sendiri, kadang sesekali bilang mau
jajan ini atau itu. Tapi pulangnya bilang nggak jadi beli karena dah kenyang,
atau sibuk pergi ke perpustakaan, atau karena temannya pada nggak jajan.
Yah, mudah-mudahan kebiasaan baik selalu melekat
di anak-anak kita dan terbawa sampai nanti mereka dewasa. Amiin…
Selasa, 18 Februari 2014
Memberikan Poin dan Bintang Untuk Mendisiplinkan Anak
Kemaren, untuk pertama kalinya saya menghadiri pertemuan
orang tua dan guru untuk membahas sosialisasi obeservasi sikap siswa di luar
sekolah. Feeling excited tentunya…hehe. Saya sebagai orang tua murid paling
senang jika dilibatkan dan berkoordinasi dengan pihak sekolah dalam pendidikan
anak.
Awalnya kami diingatkan tentang visi misi sekolah. Aduh,
sementara anak-anak hapal visi misi sekolah..saya malah lupa-lupa. Intinya sih
membentuk manusia yang bermoral, beriman, cerdas.. Pihak sekolah memaparkan pentingnya
membentuk karakter anak. Plaaaakkk, serasa disentil. Kadang-kadang emak-emak
seperti saya harus diingatkan masalah beginian, hihihi jangan cuma ngributin
masalah resep gagal *eaaaaaa.
Kami diputarkan video singkat tentang seorang ayah dan anaknya
yang sudah dewasa. Ada di you tube kok, “A touching story of an old father,
son, and a sparrow”. Video yang sangat menyentuh dengan background music yang
bikin mewek. Tiba-tiba saya teringat
emak-bapak saya di kampung. Pengen netesin air mata, tapi kok malu ya…hehe.
Lalu kami nantinya diminta untuk mengisi form untuk
observasi sikap siswa di rumah. Ada beberapa poin dinilai. Tentang kemandirian
dan tanggung jawab untuk belajar/mengerjakan PR, mengerjakan ibadah, berkata
sopan dan tidak berbicara kasar, dll.
Poin-poin penilaian itu dikasih nilai, range 1-4.
1 : Tidak pernah
2 : kadang-kadang
3 : sering
4 : selalu
Saya senang. Terus terang, membentuk karakter anak,
mendisiplinkan, mengajarkan sikap yang baik…bukan segampang membalikkan tempe goreng.
Dan saya senang karena pihak sekolah sangat concern dengan hal ini. Merasa
sangat terbantu gitu…
Saya jadi inget beberapa waktu lalu, saya pernah menerapkan
semacam itu. Tapi dengan metode dan bentuk yang berbeda. Saya biasanya pakai
tanda bintang (kertas warna-warni saya gunting-gunting membentuk bintang). Saya
juga siapkan wadah/tempat masing-masing untuk bintang yang mereka dapatkan. Hal-hal
yang bisa mereka dapatkan saya tulis di kertas besar.
Contohnya:
·
Berangkat sekolah tanpa ribut dan marah-marah
dapat bintang 10 (hehe ini dilatarbelakangi oleh sikap anak saya yang mengalami
masa ‘tidak semangat’ ke sekolah –entah karena apa-, dan heboh pagi-pagi –entah
untuk alasan apa- :p Setiap anak istimewa bukan? Apa pun penilaian dan pendapat
orang tentang anak saya, we’re very…very proud of them. )
·
Berangkat madrasah dapat bintang 10 (latar
belakang sama dengan di atas)
·
Sholat dapat bintang 5, jadi kalo sholat nggak
bolong-bolong dapat 25 bintang sehari. Sholat di masjid dapat double bonus
bintang.
·
Ngaji sehalaman buku “Iqraa” dapat 10 bintang.
·
Belajar/mengerjakan PR sendiri dapat bintang 10.
·
Membaca buku per halaman saya bayar 5 bintang
(hehe untuk mengatasi malas membaca)
·
Membantu pekerjaan di rumah saya bayar kisaran
5-10 bintang.
·
Dll
Trus buat apa bintang dikumpulin segitu banyaknya? Hehehe
tenang, emak punya trik khusus untuk mengendalikan keinginan main game mereka,
supaya nggak terus-terusan di depan gaget/laptop. Oya anak saya nggak terlalu
suka nonton tipi, mungkin untuk emak-emak lain bisa dipakai untuk mengendalikan
jam nonton tipi.
·
Main game di laptop bayar 12 bintang untuk satu
jam. Jadi 1 bintang = 10 menit main laptop
·
Main game di gadget lain juga berlaku tarif yang
sama :p
·
Main di wahana permainan di mall (kalo ke kota)
250 (biar mereka terpacu untuk ‘menabung’ bintang, jadi nggak dipakai nge-game
mulu)
·
Naik pesawat garuda (yang ada tipinya hahaha)
untuk berlibur ke eyang atau ke Sulawesi saya kasih tantangan 1000 bintang. Whatt? Hihihihi…no pain no gain maaakk
·
Beli mainan saya kasih tarif juga (hehe
tergantung mainannya apa dan bagaimana)
Oya denda/penalty mebayar bintang juga diterapkan. Misalnya,
membentak orang tua, memukul saudara/teman, berkata kotor dll.
So far, it worked. Meskipun sedikit-sedikit…lumayan lah bisa
mendisiplinkan anak. Dari yang betah berjam-jam di depan laptop, menjadi hobi
main kelereng di halaman, main lompat karet, umbul/gaplok dll sama
tema-temannya. Bahkan pernah 2 minggu full laptop nganggur nggak disentuh,
karena dia sibuk dengan kegiatan bermainnya.
Yaah, mudah-mudahan dengan form penilaian dari sekolah untuk
observasi sikap siswa di rumah, membuat
kami semakin peduli dengan pendidikan anak. Memacu anak untuk semakin bagus
sikapnya. Membuat anak-anak kami semakin terbentuk karakter positifnya,
disiplin, mandiri, beriman, dan cerdas.
Amiin…
Langganan:
Postingan (Atom)